Memanfaatkan Peluang Rekayasa Bambu di Era Modern

user
danar 14 Juli 2020, 05:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Bambu sudah sangat familier di tengah masyarakat. Tidak ada jenis bahan bangunan yang unik seperti bambu dengan karakter luwes untuk dibentuk menjadi bahan dalam rekayasa arsitektur dan berbagai kerajinan.

"Ketersediaan bambu relatif banyak dan mudah didapatkan. Dalam arsitektur, bahan menjadi satu bagian dengan desain yang dapat dipenuhi adanya keberadaan bambu," jelas Dr Ing Ir Eugenius Pradipto, Dosen Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam diskusi online Angkringan Kulon Kraton bertajuk 'Tantangan dan Peluang Desain Arsitetur Bambu dalam Dunia Modern' yang diadakan Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Senin (13/7/2020) sore.

Menurutnya, perlu pendalaman dan penguasaan karakter pada bambu untuk menjadikannya bahan desain yang menarik serta masa pakai yang panjang. Nilai kedaerahan bangunan menjadi unsur penting yang harus ada untuk menentukan karakter desain arsitektur bambu.

"Meski Bambu juga memiliki kekurangan seperti rentan kebakaran, kepadatan serat rendah, usia pakai pendek, namun bambu juga memiliki peluang dan potensi yang bagus di era modern. Bambu sangat potensial untuk menonjolkan aspek efisiensi dan efektivitas penggunaan dan pemeliharaannya. Kelebihan bambu sebagai bahan alami adalah mudah dalam pengerjaannya untuk dibuat ragam inovasi," ungkapnya.

Dijelaskan sudah banyak desain terapan dari arsitektur bambu, utamanya di Bali dan Jawa. Arsitektur sangat dekat dalam dunia rekayasa, teori segitiga emas Vitruvius yang mencakup aspek fungsi, teknologi dan estetika sebenarnya membuka banyak peluang untuk pengembangan.

Sebagai bahan ekspresi nilai guna bangunan yang dekat dengan kebiasaan aktivitas kepercayaan, seharusnya bangunan dengan arsitektur bambu dapat dijadikan bangunan utuh untuk wadah kegiatannya.

Desain konstruksi bambu, lanjut Pradipto, selama ini belum banyak tersentuh para arsitek. Sehingga hal itu seharusnya menjadi peluang baru untuk menggunakan dan mengembangkan bambu sebagai bahan baku.

"Tentu saja hal itu harus dilakukan secara berkelanjutan sesuai perkembangan zaman dari waktu ke waktu," ucapnya. (Feb)

Kredit

Bagikan