Hebat! Asrofi, Kakek Tunanetra Panjat 10 Pohon Kelapa Sehari

user
agus 13 Juli 2020, 14:11 WIB
untitled

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Asrofi (66) dengan cekatan memanjat pohon kelapa, tidak butuh lama ia sudah sampai di puncak pohon setinggi 12 meteran itu. Belasan butir kelapa tua ia petik dan jatuhkan. Ia mengandalkan perasaan untuk mengecek buah muda dan tua. Bukan pandangan mata karena Asrofi sudah kehilangan penglihatannya sejak kecil.

Asrofi tinggal di RT 01 RW 06 Dusun Ngemplak Desa Sambeng Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo. Ia tinggal sendirian di rumah sederhana berukuran 6 x 6 meter. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Asrofi bekerja sebagai pemetik buah kelapa dan perajin lincak atau kursi bambu.

Asrofi mengatakan, pekerjaan itu dilakoni sejak masih muda. "Sudah sejak lama, sejak saya bujangan menekuni pekerjaan sebagai pemetik buah kelapa dan membuat lincak," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Senin (13/7).

Pekerjaan memetik buah kelapa dilakukan apabila ada perintah dari tetangganya. "Biasanya ada yang perintah, minta tolong memetik buah kelapa. Sehari saya mampu memanjat hingga sepuluh pohon," katanya.

Asrofi mendapat upah kurang lebih dua butih kelapa berpohon yang dipanjat. Tapi ia selalu meminta dalam bentuk uang. Ia tidak memiliki sarana untuk mengupas buah kelapa hingga siap jual. Untuk sepuluh pohon, katanya, upah kelapa dikonversi dalam bentuk uang Rp 50 ribu. "Cukup untuk memenuhi kebutuhan makan saya sendiri tiap hari," ucapnya.

Apabila tidak ada yang memintanya memetik kelapa, Asrofi membuat kursi bambu di rumahnya. Kursi itu ia jual sendiri di Pasar Seren Kecamatan Gebang. Ia jalan kaki ke pasar membawa paling banyak dua lincak.

Menurutnya, lincak dagangannya belum tentu laku terjual. "Tapi kalau sampai laku dan dapat uang, saya segera pulang, tidak mau mampir makan di warung. Mending makan seadanya di rumah," tuturnya.

Kemampuan memanjat pohon kelapa didapatnya secara otodidak, sedangkan keterampilannya membuat kursi diajari mendiang ayahnya, sewaktu Asrofi masih muda. "Bapak saya mengajari buat lincak, katanya biar kelak bisa mandiri dan ternyata sekarang bisa menekuni pekerjaan itu serta ada hasilnya. Soal penglihatan, sama sekali tidak mengganggu aktivitas harian," terangnya.

Asrofi tinggal sendirian. Anak perempuan semata wayangnya tinggal bersama saudaranya di desa tetangga. Meski demikian, kata Asrofi, anaknya sering datang ke rumah membawakan makanan. "Anak saya sekarang sudah bekerja di pabrik, saya senang semoga kelak bisa sukses," tegasnya.

Tetangga Asrofi, Muslimah mengaku senang dengan sifat Asrofi yang mandiri dan tidak berpangku tangan mengandalkan bantuan orang. "Memang banyak yang kasihan, caranya dengan meminta tolong Asrofi mengerjakan sesuatu. Selain itu, pemerintah juga sudah membantu memperbaiki rumah Asrofi dan memberi bantuan terkait Covid-19," tandasnya. (Jas)

Credits

Bagikan