Terdampak Pandemi Covid-19, UKM Mebel dan Kerajinan DIY Butuh Bantuan

user
danar 12 Juli 2020, 10:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sektor mebel (furniture) dan kerajinan (craft) di DIY mengalami tekanan baik dari sisi supply maupun demand karena terdampak pandemi Covid-19. Untuk itu, pelaku UKM mebel dan kerajinan di DIY sangat membutuhkan bantuan khususnya talangan modal kerja, mencari pasar baru, fasilitasi pameran, pemenuhan pasokan bahan baku hingga tenaga kerja terampil guna memulihkan dan membangkitkan kembali industri mebel dan kerajinan di DIY.

Ketua Asosiasi Industri Mebel & Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komda DIY Timbul Raharjo menegaskan berbeda dengan krisis Asia 1998 maupun krisis keuangan 2008, krisis akibat pandemi Covid-19 lebih kompleks yaitu dipicu dari aspek kesehatan dan kemanusiaan lalu berdampak pada terganggunya aktivitas ekonomi, khususnya UKM. Hal tersebut karena adanya pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi yang memberikan tekanan (shocks) terhadap pelaku usaha maupun UKM baik dari sisi supply maupun demand.

"Kami telah melakukan survei dampak Covid-19 terhadap UKM mebel dan kerajinan di 24 daerah sentra di Indonesia pada 2 Juli hingga 8 Juli 2020 lalu. Usaha yang bergerak di bidang mebel dan kerajinan di DIY yang berskala industri diperkirakan sekitar 350 perusahaan, dengan 160 perusahaan atau hampir setengahnya mengikuti survey tersebut," kata Timbul di Yogyakarta, Sabtu (11/7/2020).

Timbul menjelaskan jumlah responden yang mengikuti survey yang diadakan sebanyak 160 perusahaan mebel dan kerajinan di DIY yang terdampak Covid-19. Dengan total aset tidak bergerak berupa tanah dan bangunan dan peralatan/mesin produksi senilai Rp 612,5 miliar dan aset bergerak berupa stok barang jadi dan bahan baku senilai Rp 280,7 miliar.

Hasil survey Asmindo di DIY menunjukan 60 persen responden mengalami penundaan order pasar domestik senilai Rp 28,9 miliar, sebanyak 86 persen responden mengalami penundaan order pasar ekspor senilai Rp 38,9 miliar, sebanyak 30 persen responden mengalami pembatalan order pasar domestik senilai Rp 16,3 miliar dan sebanyak 40 persen responden mengalami pembatalan pesanan pasar ekspor senilai Rp 28,2 miliar.

"Indikasinya berupa penurunan penjualan, berkurangnya cadangan kas dan melakukan efisiensi, seperti merumahkan karyawan, mengurangi jam kerja hingga melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)," tandas Timbul.

Penasihat Asmindo Komda DIY Endro Wardoyo mengungkapkan permasalahan utama yang dihadapi UKM mebel dan kerajinan di DIY adalah penjualan alias permintaan menurun, pemasaran, bahan baku, karyawan beralih profesi, tidak ada modal kerja dan daya beli melemah. Program bantuan Pemerintah yang sudah dimanfaatkan oleh pelaku usaha di DIY berupa penundaan angsuran pokok, insentif pajak, keringan bunga kredit dan masih ada beberapa yang belum mendapatkan bantuan.

"Pelaku UKM mebel dan kerajinan di DIY justru mengharapkan bantuan dari pemerintah utamanya talangan modal kerja, mencari pasar baru, fasilitasi pameran, pasokan bahan baku dan tenaga kerja terampil," pungkas Endro. (Ira)

Kredit

Bagikan