Boleh “Misuhi Corona” di Sayembara Misuh Internasional, Tertarik Ikut?

user
agus 11 Juli 2020, 13:05 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Komunitas Jawasastra menginisiasi sayembara misuh yang dimulai sejak tahun 2018 lalu. Kali ini di masa pandemi Covid-19, sayembara tersebut kembali hadir dengan tema MisuhiPandemi di mana siapa saja boleh ikut misuh pada objek virus Corona.

Yani Srikandi, Ketua Jawasastra menjelaskan selama ini masyarakat terkesan hanya dikenalkan dengan budaya Jawa yang adiluhung karena faktor kedekatan dengan istana kerajaan Kraton Mataram Islam. Namun, pada masyarakat di pinggiran atau disebut mancanagari ada budaya Jawa yang selama ini ada dan tak bisa dikesampingkan.

“Selama ini kami banyak memberikan informasi mengenai budaya Jawa dari banyak perspektif, dari yang sifatnya adiluhung dan lain sebagainya. Misuh hanya salah satu dari banyak topik yang sudah kami angkat selama tiga tahun ini. Jawasastra ingin memahami budaya Jawa secara utuh, memang misuh dinilai tabu di wilayah Mataram sebab berada di istana sentris, namun berbeda cerita dengan misuh di daerah pesisir dan arekan, dan daerah pinggiran lainnya (mancanagari). Kemudian apakah yang berhak disebut budaya Jawa hanya yang di wilayah istana sentris? Bagaimana dengan identitas budaya Jawa di daerah Jawa yang lain,” ungkapnya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Sabtu (11/7/2020).

Hal ini yang kemudian melandasi diadakannya Sayembara Misuh Internasional yang dimulai 8 Juli sampai 7 Agustus 2020. Setiap orang berusia 18 tahun ke atas bisa ikut dengan mengirimkan video misuh 3 menit yang diunggah melalui sosial media dengan menyertakan akun @jawasastra dan tagar misuhipandemi.

“Syaratnya tidak boleh SARA, seksis dan tanpa ditunjukkan ke personal. Kali ini temanya misuhi pandemi Corona ini, karena menurut kami banyak yang begitu kesal dan tak bisa diluapkan. Mungkin ini bisa jadi wahana menyalurkan emosi namun dengan tidak SARA, tidak seksis dan tidak ditujukan ke personal,” tegasnya.

Komunitas Jawasastra sendiri menilai misuh merupakan salah satu bagian dari budaya Jawa secara keseluruhan yang bahkan sudah ada tersampaikan di kesusasteraan Jawa Kuno. “Dalam babad Majapahit tahun 1901 dalam tedhakan Prawirasentika terdapat kalimat sikak asu aja sira ajejegug, cocote si kurang ajar. Itu merupakan pisuhan ketika melihat konteks dari apa yang disampaikan lakon dalam babad itu,” sambungnya lagi.

Sayembara Misuh Internasional 2020 sendiri mencari Kaisar Misuh dengan hadiah buku dan sertifikat misuh. Nah bagaimana, tertarik ikut misuhi pandemi? (Fxh)

Credits

Bagikan