Angka Perceraian Meningkat Saat Pandemi, Ini Kata dr Hasto

user
agus 13 Juli 2020, 09:24 WIB
untitled

KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI, dr H Hasto Wardoyo SpOG (K) menyatakan, sejak tahun 2010 hingga 2015 angka perceraian di seluruh Indonesia termasuk di DI Yogyakarta mengalami kenaikan 20 persen. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan banyak pihak.

"Fenomena ini memang cukup memprihatinkan kita semua. Coba bayangkan, di Kulonprogo setiap tahun rata-rata pernikahan hanya 2.500-2.600, sementara angka perceraian pertahun bisa mencapai 600. Itu contoh di Kulonprogo. Artinya selama lima tahun terakhir, tren perceraian memang fakta," ungkap Dokter Hasto saat berbincang santai di Dapur Semar Resto Wates, baru-baru ini.

Didampingi Wakil Bupati (Wabup) Kulonprogo Fajar Gegana, Hasto mengungkapkan, kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika terjadi pandemi virus Korona pada 2019. "Ketika ada pandemi virus Korona, patut diduga menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik dalam keluarga," tegasnya.

Mengapa? Karena hampir sekitar 28 persen problem perceraian sumbernya masalah ekonomi, meskipun lebih dari 50 persen karena percekcokan berulang-ulang dalam waktu cukup lama. Ketika ada pandemi virus Korona maka persoalan ekonomi semakin berat sehingga, memicu terjadinya perselisihan dalam keluarga," ungkap Hasto Wardoyo didampingi anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kulonprogo, Aris Syarifuddin.

Ia membenarkan faktor selingkuh memang menjadi salah satu pemicu perceraian, tapi sikap mendua hati baik di kalangan suami maupun istri tersebut tidak dominan. "Justru ada faktor yang menarik hasil analisis pada 2017, yakni ditinggal pergi. Salah satu pasangan pergi, entah itu menjadi tenaga kerja di mancanegara. Jadi perginya salah satu pasangan tersebut menjadi faktor dominan perceraian, tapi posisinya sedikit di bawah masalah percekcokan, tutur mantan Bupati Kulonprogo tersebut.

Tentang banyaknya alasan perceraian karena tidak cocok, Dokter Hasto menegaskan masalah tersebut sesungguhnya 'keranjang sampah'. Semua masalah itu seolah-olah sama, padahal kalau diurai ketidakcocokkan dimaksud sebenarnya dipicu soal yang sangat jelas. Yakni persoalan ekonomi keluarga, ditinggal pergi dan selingkuh.

"Memang ada pemicunya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tapi pereceraian karena KDRT masih di bawah 10 persen. Selain itu suami yang dipenjara prosentasenya hanya sekitar empat persen. Masalah hukum ini memang ada yang dijadikan alasan untuk mengajukan perceraian," jelas Hasto.

Pria asli Kapanewon Kokap Kabupaten Kulonprogo ini mengungkapkan, BKKBN memang telah melakukan survei terhadap 20 ribu lebih responden. Dalam survei tersebut menyangkut situasi keluarga selama pandemi virus Korona. Suami-istri yang saling menguatkan prosentasenya masih cukup tinggi, mencapai 97 persen.

Sementara suami istri yang marah-marahan sekitar 2,5 persen dan yang sudah 'keliling utang' prosentasenya mencapai 19,8 persen dan yang sudah 'berjualan' barang-barang rumah hampir 50 persen, tepatnya 48 persen.

"Tujuan BKKBN survei untuk melihat situasi keluarga secara holistik. Ternyata memang banyak keluarga yang berubah dan terpengaruh adanya pandemi virus Korona. Menariknya, selama pandemi Covid-19 ternyata yang dominan menentukan dalam memenuhi kebutuhan keluarga adalah pihak istri. Demikian juga yang dominan melakukan pekerjaan rumah tangga ya istri. Sehingga suami yang dominan praktis sedikit jumlahnya. Jadi ketika 'stay at home' atau tinggal di rumah ternyata urusan-urusan rumah tangga didominasi kaum istri, makanya tidak heran selama pandemi memang istri lebih sibuk dari suami," tutur Hasto.

BKKBN memandang perlu melakukan survei tersebut untuk mengetahui respon keluarga dalam menghadapi pandemi virus Korona. Selain itu juga tentu ingin tahu tingkat konflik yang timbul akibat adanya pandemi. Sehingga nanti bisa dicarikan solusinya.

Hasil survei juga mengungkap perihal perlindungan psikologi atau gangguan jiwa dalam keluarga, sangat penting. Sebab terjadinya pandemi virus Korona bisa menimbulkan depresi dan sedih tanpa sebab, muncul sehingga tidak jarang ada yang berpikiran ingin bunuh diri.

Solusi yang paling jitu dalam menghadapi situasi tidak menentu di tengah pandemi virus Koronam adalah menerapkan hidup hemat. "'Refocusing' penting dilakukan, karena kemampuan keuangan keluarga terbatas maka langkah tepat adalah memfokuskan anggaran keluarga untuk hal-hal penting saja. Kalau selama ini uang kita belanjakan untuk urusan 'embyeh-embyeh' atau tidak penting kita fokuskan ke satu titik sesuai kebutuhan keluarga bukan berdasarkan keinginan belaka," tegasnya.

Dicontohkan kalau sebelum pandemi virus Korona, kaum ibu-ibu yang ingin ke pasar sebenarnya sudah mencatat kebutuhan barang yang akan dibeli ternyata saat sampai di pasar justru yang dibeli melebih catatan yang dipenangnya. (Asrul Sani)

Kredit

Bagikan