DIY Siapkan 35 Destinasi Wisata Jelang New Normal

user
agus 11 Juli 2020, 11:27 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Industri pariwisata memberikan kontribusi yang besar bagi roda perekonomian di Yogyakarta. Bahkan pada 2019, pariwisata mampu memberikan kontribusi perekonomian DIY sebesar Rp 10,2 triliun serta 64,6 persen dari PDRB.

"Pada 2019, DIY mampu mendatangkan sekitar 6,1 juta wisatawan domestik serta sekitar 500 ribu wisatawan mancanegara," tutur Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo dalam webinar 'Kesiapan Pariwisata DIY di Era New Normal' yang dipandu moderator Pemred SKH Kedaukatan Rakyat H Octo Lampito MPd, Jumat (10/7).

Kepala Kanwil BI DIY Hilman Tisnawan menjelaskan, sektor pariwisata sangat mempengaruhi beragam sektor lain di Yogyakarta. Sehingga ketika pariwisata turun, semua juga akan ikut turun. Pariwisata adalah mesin penggerak ekonomi DIY, karea itu harus diperhatikan serius.

Karena itu saat adanya Covid-19 ini, sangat terasa sekali. Sehingga perlu adanya perhatian pemerintah agar pariwisata kembali bergerak untuk menjalankan roda ekonomi. "Sinergitas semua stakeholder pariwisata sangat diperlukan untuk kembali memajukan pariwisata di DIY. Tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang wajib dijalankan," jelasnya.

Turut berbicara Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY GKR Bendara, Pusat Studi Pariwisata UGM Prof J Damanik, Bank Indonesia Kanwil DIY Hilman Tisnawan serta BPD PHRI DIY Deddy Pranowo. Selain itu juga ikut bergabung dalam seminar daring tersebut perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota DIY, Direkur Badan Otorita Borobudur, GM Angkasa Pura serta pejabat lain yang terkait stakeholder pariwisata di DIY dan Jawa Tengah.

Menurut Singgih, dalam upaya menyiapkan sektor pariwisata di era new normal ini pihaknya juga berpegang pada ucapan Gubernur DIY. Yakni menata normal baru menuju peradaban baru DIY dengan salah satunya di sektor pariwisata.

"Paling tidak ada dua strategi recovery yang kami lakukan, yakni pemulihan destinasi serta pemulihan pasar. Untuk pemulihan destinasi, misalnya dengan menyiapkan sarana prasarana normal baru sesuai protokol kesehatan hingga penyiapan SDM. Untuk pemulihan pasar, kami lebih condong menggarap sektor domestik serta strategi promosi," sambung Singgih.

Namun demikian Singgih berharap dukungan dan sinergi semua pihak yang terkait dalam pengembangan sektor pariwisata ini. Dinas Pariwisata DIY juga sudah melakukan sejumlah tahapan pembukaan destinasi wisata dengan protokol kesehatan Covid-19, mulai dari penyusunan, simulasi dan evaluasi, lanjutan operasional terbatas dan lainnya.

"Pemulihan destinasi berbarengan dengan penyiapan new normal. Ada 35 destinasi wisata dan 55 desa/kampung wisata yang sudah kami berikan stimulus guna kesiapan new normal ini," katanya.

Sementara GKR Bendara dari Badan Promosi Pariwisata DIY turut menegaskan bahwa Yogyakarta memiliki harapan besar di sektor pariwisata yang juga berimbas pada UMKM. Karena itu ketika industri pariwisata ini makin lama berdiam diri, perekonomian juga kian menurun.

"Tapi juga jangan sampai langsung dibuka byak. Karena dengan dibukanya pariwisata juga jangan sampai ada penularan baru," jelas putri bungsu Sri Sultan HB X tersebut.

Karena itu, industri pariwisata tidak boleh kendor dalam menerapkan SOP protokol kesehatan tersebut. Selain itu juga harus mengedepankan kreasi dan inovasi dengan adanya keadaan normal baru tersebut.

"Kalau dulu promosinya menekankan keindahan alam, tradisi dan lainnya, sekarang juga ditekankan bagaimana protokol kesehatan juga dilakukan secara tepat. Selain itu juga dapat mempromosikan pariwisata dalam bentuk lain, seperti virtual yang harapannya dapat merubah mindset masyarakat tentang berwisata," sambungnya.

Prof J Damanik dari Pusat Studi Pariwisata UGM menambahkan, reposisi pariwisata DIY di masa new normal ini dengan mengembalikan posisi pariwisata sebagai mesin ekonomi DIY. Terdapat perubahan model bisnis hingga perubahan preparanai pasar wisatawan yang harus dilakukan.

"Protokol kesehatan harus dilakukan secara ketat. Reposisi tersebut meliputi pembatasan hingga kontrol pengunjung yang sangat penting dalam protokol kesehatan," imbuhnya.

Ketua BPD PHRI DIY Deddy Pranowo menegaskan, pihaknya sejak awal sudah menyiapkan protokol kesehatan untuk hotel dan restoran. Sejak menyebarnya Pandemi Covid-19 pada awal Maret, ada 22 hotel dan restoran yang masih buka. Sedang saat ini sudah 92 hotel dan restoran yang membuka kembali usahanya.

"Kami membentuk satgas untuk melakukan pengawasan penerapan protokol kesehatan. Sebab kami tidak menginginkan adanya klaster baru yang dapat mengakibatkan dunia pariwisata serta perekonomian DIY terpuruk lagi," ucapnya. (Feb)

Credits

Bagikan