Merapi Menggembung, Sultan Ingatkan Kesiapan Jalur Evakuasi

user
tomi 10 Juli 2020, 09:40 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Gubernur DIY yang juga Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X mengingatkan pentingnya kesiapan jalur-jalur evakuasi di lereng Merapi. Di level II atau Waspada ini, Sultan menilai kesiapan menghadapi kemungkinan erupsi harus betul-betul dipastikan.

Kepada wartawan, Sultan menyampaikan bawasanya saat ini kondisi Merapi masih berada pada level II di mana aktivitas masyarakat masih boleh dilakukan di luar jarak 3 kilometer dari puncak. Warga lereng Merapi menurut Sultan sudah tahu persis tanda-tanda yang disampaikan Merapi apabila melakukan aktivitas.

“Selama ini warga masyarakat di lereng Merapi sudah tahu persis, meski kita mengatakan bahaya tapi warga masyarakatnya tahu dengan kondisi Merapi. Selama tidak ada hewan yang turun mengungsi selama itu tidak akan ada lava yang turun, mereka sudah tahu itu,” ungkap Sultan Kamis (9/7/2020).

Sultan juga menyampaikan meski dikabarkan adanya penggembungan, masyarakat lereng Merapi sudah tahu betul apa yang mesti dilakukan melihat pengalaman tahun 2010 lalu. Kendaraan dan barang berharga warga disebut Sultan sudah disiapkan dan mereka memiliki sistem tanggap darurat mandiri yang sudah sangat baik.

Barang berharga warga itu tidak pernah disimpan di kemari dan di kunci. Barang-barang itu sudah ditaleni bareng karo sak gantine, mereka sudah siap jadi Merapi itu masyarakatnya sudah tahu. Emas atau uang itu sudah diletakkan kain dan ditaleni, jadi mereka tak usah diajari apalagi ya ngajari orang kota,” sambung Sultan.

Secara khusus, Sultan memberikan perhatian pada jalur-jalur evakuasi yang ada di kawasan lereng Merapi agar benar-benar disiapkan maksimal. Pasalnya, ada beberapa laporan kerusakan akibat jalur evakuasi dilalui truk-truk pengangkut pasir.

“Jalur evakuasi juga sangat penting karena di level Waspada itu jalur tidak ada yang boleh rusak karena kan parkir saja sudah harus menghadap ke selatan tidak boleh ke utara dan jalan harus sudah bagus. Harus bisa dilalui dengan kecepatan 80 kilometer per jam. SOP ini Pemkab Sleman seharusnya sudah tahu,” tandas dia.

Sebelumnya diberitakan Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida menjelaskan terjadinya deformasi di Merapi saat ini. Tercatat, sejak 26 Juni hingga 2 Juli lalu, ada perubahan yang ditandai pemendekan jarak tunjam sebesar kurang lebih 2 sentimeter (selama kurun waktu tersebut).

Pemendekan jarak tunjam ini terlihat dari metode EDM yakni pemasangan cermin di lereng Merapi, lalu jarak cermin ke alat EDM diukur setiap hari. Saat gunung mengalami inflasi (menggembung), maka jarak antara cermin dan alat akan memendek.

Aktivitas ini sangat lazim terjadi pada sebuah gunung berapi. Jarak aman untuk aktivitas pun tetap sama, di luar 3 kilometer dari puncak Merapi. (Fxh)

Credits

Bagikan