Suster Syantikara Bantu Anak Kost Terdampak Corona

user
tomi 09 Juli 2020, 13:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Pandemi Covid-19 tiga bulan terakhir benar-benar menyita segala daya manusia di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia dengan Yogyakarta di dalam bagiannya. Ribuan anak kost yang didominasi mahasiswa rantau mengalami kesulitan memenuhi asupan makan setiap hari karena berbagai alasan yang melatarbelakangi.

Tertundanya kiriman orangtua karena dampak ekonomi pandemi mendominasi mayoritas alasan para mahasiswa tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Cerita mahasiswa menggadaikan tas untuk memesan makanan dari ojek online sempat tersampaikan yang menunjukkan kondisi mereka tidak sedang baik-baik saja.

Berbagai alasan inilah yang melandasi Suster Mariati CB dan kawan-kawan di Syantikara Youth Center untuk bergerak membantu. Sejak awal April, para suster yang dibantu beberapa relawan muda membantu memberikan makan pada anak-anak kost yang berada di berbagai wilayah DIY.

Karya para suster dan beberapa insan muda ini terekam dalam diam. Cerita mereka baru tersebar, Rabu (8/7/2020) saat seorang romo bernama Edi Prasetyo SJ mengunggah kisah inspiratif tersebut melalui akun Twitter pribadinya.

Suster Mariati mengungkap, sejak awal pandemi ia bersama beberapa suster di Syantikara berusaha bergerak membantu. Pada awal pandemi sekitar Maret lalu, mereka membuat olahan empon-empon dan Seruni (serai jeruk nipis) yang diberikan 50 liter perhari untuk tenaga kesehatan di rumah sakit Panti Rapih, dekat dengan lokasi biara di Jalan Kolombo.

“Saat itu kami dibantu beberapa relawan membuat olahan Seruni yang kami berikan untuk tenaga kesehatan di Panti Rapih yang menangani Covid. Lalu kami berpikir untuk membuat hal lain yang bermanfaat, kemudian muncul ide membuat kreasi makanan karena ketika itu hampir semua warung tutup karena pandemi,” kisah Mariati ketika berbincang dengan KRjogja.com, Kamis (9/7/2020) siang.

Pada awalnya olahan makanan itu dijual dengan harga Rp 3.000 di depan Syantikara karena para suster tak memiliki modal sehingga harus berpikir memutarkan uang. Namun berjalan seminggu, hal-hal baik muncul, seperti donasi dari romo Kevikepan DIY yang terus bergerak dan akhirnya menginisiasi para donatur.

“Banyak donasi berupa uang, bahan makanan bahkan doa untuk kami. Lalu kami mulai membuat makanan yang kemudian diberikan pada mahasiswa atau anak kost yang membutuhkan. Kami berikan pada siapapun yang membutuhkan tanpa menanyakan latarbelakang, hanya nama saja,” imbuh Mariati.

Pada awal Covid di DIY periode bulan April hingga Mei, para suster memasak untuk 200 porsi lebih setiap hari. Menjelang sore, tiap koordinator mahasiswa kost akan mengambil di biara untuk dibagikan pada rekan-rekan yang terdampak.

“Sampai sekarang mungkin sudah puluhan ribu bungkus yang kami buat di sini, jujur tidak pernah dihitung secara detail karena niat kami membantu. Namun minimal kami buat 50 bungkus sehari, pernah juga beberapa waktu lalu kami membuat 275 bungkus nasi dalam sehari,” ungkapnya sembari tersenyum.

Di bulan Juni-Juli ini, Mariati bersama para relawan melakukan pendataan pada anak-anak kost yang membutuhkan makanan. Mereka akan dimasukkan dalam sebuah grup lalu mengisi nama setiap pendataan pukul 20.00 WIB malam sebagai patokan memasak keesokan harinya.

Salah satu relawan, Joni Sadarlah Halawa (20), mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma sejak awal menghibahkan tenaga dan pikirannya untuk membantu Suster Mariati di Syantikara. Ia rela tinggal untuk sementara di Syantikara dan meninggalkan kostnya di kawasan Paingan untuk bergabung mengolah bahan pangan bagi rekan sesama mahasiswa yang membutuhkan.

Kedua orangtua Joni sebenarnya terdampak Covid karena panenan karet yang jadi sumber pokok penghidupan tak bisa dijual keluar Nias. “Saya seperti terpanggil membantu Suster Mariati karena mungkin merasakan luar biasanya pandemi Covid ini. Orangtua di Nias juga terdampak, tidak ada bantuan bahkan sampai sekarang. Mungkin itu jadi panggilan hati sekaligus di Syantikara bisa belajar praktik dari teori di kampus,” ungkap Joni yang terlihat sibuk mengolah tepung.

Gerakan berbagi nasi untuk anak kost yang diinisiasi Syantikara Youth Center ini masih terus berjalan hingga saat ini. Mariani bersama rekan-rekannya belum tahu akan melakukan aksi tersebut sampai kapan karena pandemi yang belum usai.

“Kami berharap pandemi lekas usai, tapi apabila ada mahasiswa atau anak kost yang membutuhkan bantuan, kami akan terus membantu semampu kami,” pungkas Mariati. (Fxh)

Credits

Bagikan