Protokol Transportasi Perlu Asumsikan Semua Orang Carrier

user
danar 10 Juni 2020, 12:55 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Sikap masyarakat yang cenderung mengabaikan protokol kesehatan, perlu dijadikan perhatian dan bahan evaluasi bersama. Salah cara yang bisa dilakukan dengan melakukan pelurusan pemahaman tentang kenormalan baru. Sektor transportasi yang mendukung mobilitas yang produktif harus bersifat melindungi. Karena resiko penyebaran salah satunya adalah dari Orang Tanpa Gejala (OTG) yang merupakan salah satu sumber penularan yang sulit dideteksi.

"Banyaknya masyarakat yang berkerumun dan tidak mentaati protokol kesehatan menjadikan resiko penularan semakin besar. Oleh karena itu protokol di transportasi harus mengasumsikan bahwa semua orang adalah carrier. Selain itu benda-benda di kendaraan dan ruang publik juga mungkin terkontaminasi Covid-19," kata peneliti dari Pusat Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Dr Arif Wismadi di Yogyakarta, Selasa (9/6/2020).

Menurut Arif, kesalahan pemahaman (Miskonsepsi) di masyarakat tentang kenormalan baru terbentuk ketika pandemi masih berlangsung, namun masyarakat mengganggap pandemi sudah berakhir, bahkan tidak mengalami trauma.Yang disayangkan kesalahan pemahaman itu mendominasi golongan muda dan terpelajar yang didorong oleh rasionalisasi atas persepsi dampak fatalitas yang rendah untuk usia kurang dari 45. Jika hal tersebut dibiarkan maka bisa mempengaruhi perilaku kelompok umur lain dan juga meningkatkan resiko anggota keluarga di rumah yang rentan.

"Harus diingat bahwa meski mungkin tidak berdampak fatalitas, biaya pengobatan cukup mahal, bisa sekitar Rp100 juta sampai Rp 200 juta. Belum lagi hilangnya kapasitas ekonomi dari pasien itu sendiri. Dengan demikian pengabaian perilaku mestinya tidak bisa ditolerir karena dapat menimbulkan kerugian jiwa harta diri dan orang lain. Secara akumulatif juga membebani perekonomian masyarakat," paparnya.

Lebih lanjut Arif menambahkan, apabila diawal pandemi, ketidaktahuan tentang penggunaan masker misalnya masih bisa diperingatkan secara simpatik dengan pembagian masker. Namun pada saat sekarang pengabaian harus ditindak lebih tegas. Bisa dimulai dari hukuman fisik atau sosial di muka publik.

Sedangkan di sektor tranportasi, pengutamaan nilai kemanusiaan melalui perlindungan jiwa adalah mutlak, sebelum, saat dan setelah pandemi Covid-19. Hal itu penting, karena penerapan desinfektan tidak selalu efektif karena sesaat setelahnya bisa langsung terkontaminasi lagi. Artinya protokol untuk bertransportasi harus lebih fokus pada melindungi individu. Setiap individu harus mengenakan pelindung diri, minimal faceshield dengan masker. Peran faceshield lebih penting lagi untuk mencegah seseorang menyentuh wajah. Pengguna masker sering abai dengan sentuhan pada muka, padahal tangannya tidak steril.

"Masker dengan faceshield yang menyulitkan sentuhan pada wajah. Apalagi jika diikuti cuci tangan sebelum mendekatkan tangan disekitar area kepala serta kegiatan makan dan minum sifatnya keharusan. Jika hal ini menjadi protokol yang ketat maka resiko penularan saat bermobilitas bisa dikurangi. Bahkan saat kendali kerumunan dengan physical distancing dilanggar, maka resiko penularan bisa dikurangi," tambahnya.(Ria)

Kredit

Bagikan