Daya Tahan Perhotelan di Yogya Tinggal 2 Bulan

user
agus 07 Mei 2020, 20:14 WIB

YOGYA, KRJOGJA.com - Pandemi virus Korona (Covid-19) memukul dunia pariwisita, termasuk dunia perhotelan. Tidak sedikit hotel di Yogyakarta yang tetap berusaha beroperasi demi menjaga nama Yogya sebagai daerah kunjungan wisata dengan dukungan hotel yang lengkap. Namun akibat beban biaya operasional yang tidak bisa tertutupi karena tidak ada pendapatan, menjadikan semakin berat untuk menjaga usaha perhotelan. Semakin lama daya tahannya ada batasnya.

Dalam bincang-bincang KRjogja.com dengan Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, jika usaha perhotelan dibiarkan begitu saja, tanpa campur tangan pemerintah untuk membantu, maka kekuatan usaha perhotelan di DIY hanya sampai bulan Juni, atau sekitar dua bulan lagi.

Dari sekian banyak hotel yang ada di DIY, saat ini yang masih beroperasi hanya 38 hotel. Aktivitas mereka, semata-mata untuk menjaga brand Yogya tersebut.

Menurut Deddy, sudah banyak yang dilakukan dunia perhotelah di DIY untuk menjaga brand Yogya sebagai daerah kunjungan wisata. Termasuk melakukan berbagai efisiensi, hingga pengurangan dan merumahkan karyawan. Sehingga hanya sebagian saja yang bekerja.

Apa saja yang sudah dilakukan pengusaha perhotelan demi menyelamatkan usahanya, namun pada akhirnya berpulang pada keterbatasan yang dimiliki. Di mana ada beban-beban usaha lain yang tetap harus dibayarkan agar operasional hotel tetap berjalan, meski tamu hotel sangat minim.

Seperti misalnya biaya listrik, tetap harus dibayarkan. Pihaknya minta kepada pemerintah untuk melakukan intervensi terkait beban listrik ini. “Kami sudah melakukan pembicaraan dengan pihak PLN di Yogyakarta, namun demikian, permintaan untuk keringanan beban listrik, kebijakannya ada di pusat,” ujar Deddy.

Intervensi lain yang diharapkan ada kebijakan penghapusan ataupun penundaan pembayan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), hingga pajak air tanah. “Kami berharap Pemda, ikut meringankan beban kita. Sehingga kita bisa tetap bertahan,” ujar Deddy.

Sebelum datangnya wabah Covid-19, sebetulnya dunia perhotelan di DIY bakal panen. Karena bulan Maret, penanan kamar sudah 80 persen. Pada bulan April juga masih tinggi, yakni 70 persen. Bahkan di bulan puasa, yakni Mei, pesanan menjapai 45 persen. “Ini jumlah yang banyak,” ujarnya.

Namun ketika info wabah Covid-19 sudah melanda Solo, pesanan kamar, tahu hotel langsung berosot. Mereka banyak yang batal. Ini merupakan pukulan berat bagi dunia perhotelan di DIY.

Berbagai upaya mempromosikan kembali, sampai diskon besar-besaran, ternyata belum bisa mendongkar pengunjung. Akibatnya, karena tamu hotel merosot, karyawan hotel terpaksa di rumahkan. Suatu saat, ketika pandemi sudah berakhir dan mereka bisa masuk kembali. “Di rumah, para karyawan yang di rumahkan, bisa melakukan aktivitas ekonomi, termasuk bercocok tanam. Semoga bisa menjadi penghasilan tambahan,” ujar Eryono. (Jon)

Berikut video bincang-bincang KRJogja.com dengan Ketua Umum PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono.

Credits

Bagikan