Pasar Sepi, Buruh Gendong Beringharjo Terpaksa 'Tombok' Ongkos

user
tomi 01 Mei 2020, 11:45 WIB
untitled

RAUT wajah Suyatmi, buruh gendong Pasar Beringharjo sumringah saat ditemui di selasar lantai 3, Jumat (1/5/2020) siang. Ia sedikit bisa lega hari ini karena tak harus menombok untuk ongkos pulang, seperti yang harus dilakukannya sejak masa tanggap darurat di DIY bulan lalu.

Warga Disil Salamrejo Sentolo Kulonprogo ini merasakan betul dampak pandemi Covid-19 yang terjadi. Pasar Beringharjo yang sepi berdampak pada pendapatannya, tak ada gendongan yang artinya tidak ada uang masuk ke kantongnya.

Tas berwarna kuning digenggamnya dengan erat. Isinya sembako yang diberikan MKGR bersama DPD Golkar DIY berupa sabun cuci tangan, beras 5 kilogram, minyak goreng, mie instan, gula pasir dan uang Rp 50 ribu.

Tak seberapa mungkin, tapi bagi Suyatmi dan 78 rekannya yang lain, paketan tersebut begitu sarat makna. Mereka bisa bernafas paling tidak untuk satu dua hari kedepan, memberi pengharapan bagi keluarga di rumah yang ditinggalkan untuk bekerja.

“Biasanya, sehari bisa menabung Rp 10 ribu atau Rp 15 ribu. Tapi setelah ada Corona ya sudah tidak bisa lagi, karena pasarnya sepi. Ini malah harus tombok buat transport kalau pulang pergi ke Sentolo. Pulang pergi itu Rp 14 ribu naik jemputan bareng-bareng. Ini dapat sembako sama ada uang ya rasanya bersyukur sekali,” ungkapnya.

Ketua DPD Golkar DIY, Gandung Pardiman menyebut sengaja memberi apresiasi pada buruh gendong Beringharjo tepat dengan peringatan Hari Buruh. Gandung melihat, buruh merupakan salah satu insan yang paling terdampak pandemi Covid-19 karena hampir tak ada kegiatan seperti biasa di pasar saat ini.

“Buruh gendong ini salah satu yang menurut saya punya perjuangan hidup luar biasa. Mereka ini, hari ini ya untuk makan hari ini, saat pasar sepi ya mereka tak punya pendapatan. Tapi mereka tidak pernah mengeluh, menjalani semuanya kalau orang bilang ya di tengah keheningan,” ungkap Gandung usai memberikan sembako.

Selain buruh gendong Malioboro, di Hari Buruh, MKGR dan Golkar DIY juga memberikan sembako untuk pengamen jalanan Malioboro. Tidak ada aktivitas pariwisata di Malioboro membuat mereka kehilangan pendapatan selama pandemi Covid-19. (Fxh)

Kredit

Bagikan