Isu Malioboro Tutup, Omset PKL Langsung Terjun Bebas

user
danar 18 Maret 2020, 13:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Merebaknya virus COVID-19 di Indonesia berimbas pada sektor pariwisata. Setidaknya itu yang dilakukan sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Malioboro. Omset mereka turun drastis.

Penurunan ini mereka rasakan sejak Senin (16/3/2020) kemarin. Padahal sehari sebelumnya masih normal. Namun, tiba-tiba ada hoax yang menyebutkan jika Malioboro ditutup karena ada Korona. Akibatnya pengunjung Malioboro juga menurun drastis. Bahkan penurunan pendapatan mereka ini lebih parah dibanding bencana Gunung Merapi 2010 lalu.

"Ini turunnya lebih parah dibanding (bencana Gunung) Merapi kemarin. Gara-gara ada hoax kalau Malioboro tutup. Jadi sejak (Senin) kemarin langsung sepi. Turunnya sampai 50 persen lebih," ujar Anto (34) pedagang Soto Ayam yang sehari-hari berjualan di depan Kantor DPRD DIY, Rabu (18/3/2020).

Anto masih sedikit beruntung, karena dia memiliki pelanggan tersendiri. Jadi, soto ayam kampung dagangannya tetap ada yang beli. Meski penurunan juga tetap dia rasakan.

Seperti Sulardi (51) yang merasa Hari Minggu (15/3/2020) kemarin, situasi Malioboro masih normal. Namun, begitu ada isu Malioboro dan Keraton turup, langsung drastis. Padahal Sulardi sehari-hari hanya mengandalkan wisatawan yang makan di tempatnya. Namun, kini dia harus merasakan penurunan hingga 50 persen lebih.

"Kita ini khan murni mengandalkan wisatawan. Jadi kalau tidak ada wisatawan ya tidak ada yang makan. Sebenarnya siapa yang menyebarkan isu tersebut?," geramnya.

Turunnya pengunjung Malioboro juga berdampak bagi pengemudi becak. Jika hari-hari biasa, bisa mengangkut 3-4 penumpang, sekarang bisa membawa satu penumpang saja sudah beruntung.

"Lha gimana, Malioboro tidak ada orang sama sekali. Siapa yang mau naik becak? Sejak Senin kemarin hanya ada satu penumpang dengan tarif Rp 10 ribu. Itu sudah bagus, karena ada beberapa teman yang tidak ada penumpang sama sekali," kata Bardi (78).(Awh)

Kredit

Bagikan