Satu dari Tiga Anak Indonesia Alami ‘Stunting’

user
ivan 21 Oktober 2017, 12:46 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Pertumbuhan anak tidak maksimal diderita sekitar 8,9 juta anak Indonesia atau satu dari 3 anak Indonesia tumbuh tidak maksimal (stunting). Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2%  meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%).

Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah (Nasyiah) Diah Puspitarini mengemukakan hal tersebut kepada KRJOGJA.com, Sabtu (21/10/2017). Hal tersebut disampaikan terkait diselenggarakannya Kajian Tematik ‘Stunting dalam Perspektif Islam dan Muhammadiyah’ di Hotel Ross-in hari ini. Kajian  menghadirkan pakar gizi UGM, Staf Bappenas dan dari PP Muhammadiyah.

“Intervensi gizi saja masih belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan berpengaruh pula untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak karena anak usia di bawah dua tahun rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit,” jelasnya.

Menurut data UNICEF 2010, Indonesia menduduki peringkat kelima dari 136 negara untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan anak berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya, yang terjadi sebagai akibat dari kurang gizi kronis. Stunting menurut UNICEF didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Disebutkan Diah, sebuah riset menemukan bahwa semakin sering seorang anak menderita diare, maka semakin besar pula risiko stunting. Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan memicu gangguan saluran pencernaan yang membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan untuk perlawanan tubuh melawan infeksi.

“Penduduk miskin di Indonesia memiliki kemungkinan menderita stunting 50% lebih tinggi dibandingkan dengan yang berasal dari golongan menengah ke atas. Namun demikian, hampir 30% anak Indonesia dari golongan menengah ke atas juga mengalami stunting,” sebutnya.

Stunting menurut Ketua Umum PP Nasyiah tidak hanya mengakibatkan tubuh anak pendek, tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan anak saat dewasa menjadi tidak maksimal. Kejadian stunting pada anak merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak, dan sepanjang siklus kehidupan. Dampak stunting yang telanjur muncul tidak dapat diperbaiki kembali (irreversible).

“Perlu diketahui, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (270 hari selama kehamilan dan 730 hari dari kelahiran sampai usia 2 tahun) merupakan ’golden age periode’ dari pertumbuhan dan perkembangan anak yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya,” jelas Diah. Sehingga  Ibu hamil yang anemia dan menderita kekurangan energi kronis (KEK), bayi usia 0-6 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif, serta bayi usia 6-24 bulan yang tidak mendapat ASI serta MP-ASI yang cukup dapat meningkatkan risiko kejadian stunting. (Fsy)

Kredit

Bagikan