Mural Bagian Seni Prasejarah

user
agus 26 Juli 2017, 15:31 WIB
untitled

YOGYA (KRjogja.com) - Seni mural sebenarnya bukan merupakan satu hal baru. Pasalnya, berdasar literasi dan kajian, mural sudah ada sejak jaman prasejarah. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai gambar yang terdapat di dinding gua sebagai bentuk peninggalan masa lalu.

“Bahkan di salah satu gua di Maros, ada gambar-gambar di dindingnya yang berusia sekitar 40 ribu tahun lalu. Dilanjutkan di era abad pertengahan, mural juga terus mendominasi,” tutur Pembantu Rektor II ISI Yogyakarta Drs AG Hartono MSn sela acara ‘Lets’s Color Walls Connection’ di Jalan Beji Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta, Rabu (26/7).

Menurut AG Hartono, saat ini mural dikelompokkan pada jenis  'art street', namun sifatnya lebih permanen. Membuat mural menrut Hartono juga menjadi pengalaman estetik. Karena seniman diajak menggarap ruang public menjadi sebuah kawasan yang estetik.

“Kegiatan seperti ini membuat mahasiswa maupun lembaga lainnya makin eksis. Momen seni ini jadi makin menarik ketika pihak-pihak terkait ikut mendukung,” jelasnya.

Terpisah perwakilan Biro Kesra DIY Endah Mawarni mewakili Wagub DIY KGPAA Paku Alam X menjelaskan, mural pada masa lampau dibuat hanya dengan materi sederhana. Seperti menempelkan telapak tangan pada dinding gua lalu menyemprot dengan kunyahan dedaunan berwarna-warni.

“Hanya saja kini gambar yang dihasilkan lebih berkembang. Selain itu juga dengan peralatan yang digunakan sangat beragam. Seni mural merupakan seni visual yang sangat merakyat,” tukasnya.

Sedang Presiden Direktur PT ICI Paints Indonesia (AkzoNobel Decorative Paints Indonesia) Jun de Dios menjelaskan kegiatan ini merupakan sebuah program kolaborasi AkzoNobel dan MasterPeace yang diluncurkan di Rotterdam, Belanda, pada Maret 2017 lalu. Inisiatif ini berlangsung di lebih dari 40 kota di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan melibatkan ratusan seniman dan ribuan relawan dalam melukis 100 dinding di seluruh dunia. “Dengan kekuatan warna, kreativitas dan keterlibatan ratusan peserta, kami mengajak masyarakat Yogyakarta untuk bersama-sama mengubah dinding menjadi daya tarik masyarakat," kata Jun.

Yogyakarta dipilih karena kota ini memiliki warisan sejarah yang signifikan dan penting bagi kekayaan budaya Indonesia. Di sepanjang dinding seluas 750 meter, sekitar 1.640 liter produk Dulux Weathershield digunakan untuk pengecatan mural di daerah Pakualaman, Jalan Sambilegi dan daerah Soboman yang merefleksikan tema ‘Bhinneka Tunggal Ika.’ Kegiatan ini melibatkan sekitar 500 mahasiswa dari ISI Yogyakarta dan masyarakat. (R-7)

Kredit

Bagikan