Penjual Gudeg Manggar Ini Sedekahkan Uang Jualan

user
agung 04 Desember 2016, 18:17 WIB
untitled

KERAMAIAN Car Free Day Toegoe Jogja Festival (TJF) diawal bulan Desember, Minggu (04/12/2016) bukan hanya karena banyaknya masyarakat datang untuk berolahraga. Namun acara yang rutin digelar di Jalan Pangeran Mangkubumi (Jalan Margo Utomo) juga dimeriahkan oleh Pasar Tempo Doeloe yang diselenggarakan oleh Indonesian Food & Beverage Executive Association (IFBEC).

Salah satu stand yang cukup menarik perhatian pengunjung Pasar Tempo Doeloe adalah salah satu gubuk dengan spanduk ‘Gudeg untuk Amal’ yang menggantung.

Gudeg Manggar Bu Tjondro, dari namanya kita bisa mengira bahwa itu gudeg buatan Ibu Tjondro, tapi  ternyata bukan. “Di sini ndak ada yang namanya Bu Tjondro, mbak,” ujar seorang pria bernama Bima, yang ternyata adalah sang empunya Gudeg Manggar Bu Tjondro.

Penjual Gudeg Manggar Ini Sedekahkan Uang Jualan

Hasil penjualan gudeg manggar akan disedehkan untuk orang yang membutuhkan (Latifa Nurina)

Di depan meja tempat berjajarnya baskom-baskom berisikan gudeg, telur dan krecek, terdapat sebuah kertas bertulisan ‘Uang yang anda gunakan untuk membeli gudeg di sini, akan kami sedekahkan untuk kaum yang membutuhkan melalui program amal Kedaulatan Rakyat, yaitu Dompet KR’.

 

“Tanggal 7 Desember besok kami akan buka warung perdana, jadi 'Gudeg Untuk Amal' ini biar kedepannya warung kami berkah, diridhoi dan lancar,” jelas pemilik nama lengkap Bima Febian ini. Gudeg Manggar Bu Tjondro, dengan tagline ‘Gudeg legendaris yang kata orang susah didapatin ini, sekarang hadir di dekat anda’, dapat ditemui di daerah Pojok Beteng Kulon.

Nama Tjondro sendiri didapat dari Tjondronegaran, sebuah kampung di daerah Gedongkiwa, Yogyakarta. Di sanalah Bima tinggal bersama istrinya, Fitria Dini yang seorang penggemar berat gudeg. Kecintaannya terhadap gudeg menggugah keinginannya untuk bisa membuat gudeg sendiri.

Penjual Gudeg Manggar Ini Sedekahkan Uang Jualan

Gudeg manggar Bu Tjondro

Memanfaatkan tekonologi yang semakin maju dan menyediakan informasi yang sedemikian rupa, ia belajar memasak gudeg dari YouTube. “Saya senang nonton YouTube, lihat resepnya, cara masaknya, coba-coba terus akhirnya bisa,” jelas ibu rumah tangga yang dulunya penjahit ini.

Selain itu, mamanya juga mendatangkan pembuat gudeg dari wijilan untuk mengajari Fitri. Keberhasilannya memasak gudeg yang dinilai kerabatnya enak akhirnya berlanjut bisnis hingga sekarang.

Lagi-lagi memanfaatkan media online, Gudeg Bu Tjondro yang baru lahir sejak bulan Juli 2016 ini awalnya dipasarkan secara online melalui media sosial. Instagram dan Path dipilih Bima untuk menjajakan gudeg buatan istrinya. “Kami free delivery untuk setiap orderan, kadang ada yang order pakai Gojek juga,” kata Bima.

Kami mengobrol di dekat tungku tanah liat atau anglo yang masih panas, menjadi penanda bahwa gudeg manggar mereka dimasak dengan cara tradisional. Manggar menghabiskan waktu 15 jam di atas tungku hingga akhirnya layak disebut gudeg.  Manggar adalah putik bunga kelapa muda yang dipakai sebagai bahan utama menggantikan nangka muda pada gudeg-gudeg biasa.

 

Bima dan Fitri mendapatkan bahan langsung dari petani manggar yang ada di Mangir, Bantul. “Kebetulan di sana petaninya produksi aren, jadi sekalian tak beli manggarnya. Tapi kalau kepepet kadang beli di pasar,” jelas Bima.

Fitri menambahkan harga manggar kadang naik turun, bisa lebih mahal dari harga ayam. Dulu pernah sampai Rp 60 ribu perkilonya. Belum genap jam 12 siang, tak terasa sudah hampir 100 porsi terjual, krecek dan gudeg juga sudah hampir habis. Fitri kembali ke rumah untuk memasak lagi. (Latifa Nurina A)

Kredit

Bagikan