Keseimbangan Pangan DIY Harus Surplus

user
danar 04 Februari 2018, 17:51 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY tetap konsisten dan berupaya menjaga keseimbangan antara ketersediaan pangan dan kebutuhan pangan di DIY pada 2018 ini. Keseimbangan pangan tersebut harus surplus guna menjamin ketahanan pangan di DIY.

"Kami perlu mendalami keseimbangan antara ketersediaan pangan dan kebutuhan pangan di DIY. Kami mempunyai data stok ketersediaan pangan di BKPP, tetapi di lapangan bisa data tersebut tidak sesuai sehingga harus dipastikan data yang sebenarnya baik dari ketersediaan maupun kebutuhan pangan," kata Kepala BKPP DIY Arofa Noor Indriani kepada KRJOGJA.com  di Yogyakarta, Minggu (4/2/2018).

Arofa mengatakan pihaknya harus menganalisis ketersediaan pangan dan kebutuhan pasar di DIY agar tidak terjadi kelangkaan dan fluktuasi harga komoditi pangan nantinya. Keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan pangan tersebut menjadi patokan untuk menjamin ketahanan pangan. Tekait dengan keseimbangan tersebut, khususnya di daerah-daerah yang rawan pangan atau masyarakat kurang mampu pihaknya mempunyai program untuk mendekatkan akses.

"Kami mempunyai program mendekatkan akses dari daerah sentra pangan ke daerah rawan pangan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) atau lembaga akses pangan masyarakat.  Kami juga mempunyai program pemberdayaan daerah rawan pangan tersebut dengan melalui optimalisasi kelompok di perdesaan agar mampu memperkecil gap ketimbangan dan memperdayakan lembaga keuangan desa," paparnya.

BKPP DIY mengharapkan melalui berbagai program bagi daerah rawan pangan di DIY ini maka perekonomian masyarakat di wilayah rawan pangan tersebut bisa tumbuh terutama ekonomi produktif sehingga tidak terlalu tertinggal dengan daerah lainnya. Hal ini wujud dari upaya untuk mengurangi kemiskinan di DIY yang masih tinggi terutama di perdesaan.

"Kami secara agregrat, BKPP DIY berusaha mendorong usaha ekonomi produktif masyarakat daerah rawan panggan. Termasuk pemberdayaan kelompok tani wanita untuk optimalisasi pemanfaatan pekarangan sebagai penyedia pangan keluarga dan penyangga ketahanan pangan di tingkat keluarga," tegas Arofa.

Menurutnya ketahanan pangan ini membutuhkan analisis keseimbangan seperti neraca bahan makanan dan sebagainya untuk mengetahui stok pangan yang ada di DIY. Keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan pangan ini mulai dari sisi produksi, pedagang, kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan non rumah tangga serta lain-lain yang dikumpulkan menjadi satu data.

"Kesimbangan pangan di DIY statusnya harus surplus tidak boleh minus, terutama untuk komoditi bahan pokok pangan seperti beras. Kami harus mengusai keseimbangan pangan tersebut, kecuali komoditi yang tergantung dari daerah lain seperti sayuran, susu, minyak, bawang putih garam dan sebagainya," pungkas Arofa. (Ira)

Kredit

Bagikan