Dampak 'Tsunami Kecil', Nelayan dan Pedagang Rugi Miliaran

user
agus 28 Juli 2018, 00:15 WIB
untitled

GUNUNGKIDUL, KRjogja.com - Hingga saat ini Pemkab Gunungkidul dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul belum bisa menghitung total kerugian materi akibat gelombang tinggi yang terjadi dua hari lalu. Namun melihat kerusakan kapal, gazebo, rumah makan, penginapan dan rumah pribadi serta Pos SAR, diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

"Kami belum bisa menghitung kerugian secara pasti, karena masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baik Dinas Pariwisata, Dinas Kelautan dan Dinas PUPKP, perlu mendata secara detail," kata Kepala BPBD Gunungkidul Edy Basuki MSi kepada KR, Jumat (27/7).

Saat ini BPBD masih fokus melakukan pembenahan dan evakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan, sambil membantu warga pesisir dengan didirikan dapur umum.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto mengungkapkan, dampak gelombang tinggi di Pantai Selatan mengakibatkan kegiatan ekonomi warga pesisir khususnya nelayan macet. Sudah satu minggu lebih akibat gelombang pasang, nelayan tidak ada yang berani melaut.

"Bahkan sampai sekarang kapal nelayan, mulai dari Pantai Sadeng hingga Gesing, masih diparkir di tempat yang paling aman. Sebab menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada Senin (30/7) masih akan terjadi gelombang pasang," kata Rujimanto.

Berita terkait:

Gelombang Tinggi Capai 8 Meter, Terbesar dalam 2 Dekade

Dampak Gelombang Tinggi, Harga Ikan Laut Naik

Ditanya soal kerugian, Rujimanto mengaku sangat besar. Karena aktivitas ekonomi tidak bisa berjalan. Tidak hanya nelayan, warga di kawasan pantai juga terkena dampak gelombang tinggi. Sejak gelombang tinggi, tidak ada nelayan yang beraktivitas mencari ikan hingga sekarang. "Mudah-mudahan gelombang laut segera normal kembali, sehingga aktivitas warga pun kembali normal," harapnya.

Diungkapkan, jumlah kapal nelayan di Gunungkidul cukup banyak, mencapai 750 unit. Karenanya fenomena alam gelombang tinggi ini sangat berdampak pada ekonomi nelayan, seperti mengakibatkan rusaknya alat tangkap ikan di Pantai Baron dan Ngandong. "Kini nelayan masih bersih-bersih pantai serta menunggu situasi kembali normal, agar dapat kembali mencari ikan di laut," ucapnya.

Berdasarkan catatan HNSI, kapal yang mengalami kerusakan di Pantai Sadeng sebanyak dua unit, selain itu kapal di Pantai, Drini, Baron dan yang lain mengalami kerusakan sedang. Khusus di Pantai Sadeng, kapal rusak satu unit karena saling berbenturan saat parkir dan disapu gelombang tinggi.

Sedangkan satu kapal lagi saat akan mendarat, terdorong gelombang tinggi dan mengakibatkan benturan dan mengakibatkan kerusakan.

Kerugian ekonomi yang dirasakan para pelaku wisata juga cukup besar. Ratusan pedagang dan penjual jasa, selama terjadi gelombang pasang hingga sekarang  masih trauma dengan terjadinya 'tsunami kecil' kemarin. Para pedagang hanya mengemasi barang-barangya yang masih bisa diselamatkan dan untuk memulai aktivitas masih menunggu setelah 30 Juli.

"Mudah-mudahan gelombang segera normal. Jika setiap pedagang selama gelombang pasang rugi Rp 1 juta, maka kalau ada ribuan pedagang yang tersebar di seluruh pantai dari Pantai Gesing sampai Wediombo, kerugiannya sudah mencapai miliaran rupiah," katanya. (Awa/Ded)

Kredit

Bagikan