Pengurukan TPST Piyungan Terhambat Keberadaan Sapi

user
ivan 23 Juli 2018, 11:26 WIB
untitled

BANTUL, KRJOGJA.com - Kondisi Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Piyungan saat ini semakin memprihatinkan. Kapasitas sudah penuh namun tetap dipaksa menampung ratusan ton sampah tiap bulan dari kawasan Kartamantul (Yogyakarta, Sleman dan Bantul). Salah satu solusi dengan pengurukan pun terhambat oleh keberadaan sapi-sapi yang diumbar begitu saja.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Drs Masharun Ghozalie MM, didampingi Kepala Bidang Persampahan Limbah dan Pengembangan Kapasitas DLH Bantul Wahid menuturkan sebelumnya, TPST Piyungan merupakan TPST terbaik di Indonesia. Hal ini karena dari sisi tempat dianggap strategis dengan pengelolaan saat itu dinilai baik.

Baca juga :

'Overload', TPST Piyungan Mestinya Tutup

TPST Piyungan Makin 'Sesak', Butuh Lokasi Baru

Namun dalam perkembangannya, justru menjadi semakin memprihatinkan karena kurang konsisten dalam pengelolaan. ”Keberadaan air lindi (air limbah sampah) yang sudah penuh harus dibuang. Karena lindi menyebabkan vektor yakni binatang pembawa penyakit, aroma bau yang sangat tidak sedap dan berbahaya ketika lama terhirup manusia,” terangnya.

Sebenarnya kondisi itu dapat diantisipasi dengan pengurukan lapisan sampah secara rutin. Idealnya untuk pengurukan dilakukan setiap satu minggu sekali dengan ketebalan antara 20 cm hingga 40 cm. Meski demikian, ternyata pengurukan sampah di TPST Piyungan tidak dapat dilakukan secara optimal.

”Kendalanya karena banyak sapi yang diumbar mencari makanan di antara sampah-sampah tersebut. Selain itu pemulung juga banyak yang mencari sesuatu di kawasan ini. Yang paling mendesak adalah penanganan air lindi untuk segera dicarikan solusi,” imbuh Masharun.

Kendala lain juga permasalahan run off atau pengaturan air hujan. Sampah yang terpapar air hujan dan mengeluarkan air sampah ini ternyata meluber kemanamana karena keterbatasan tempat. Diakuinya, volume sampah yang overload ini seharusnya segera dicarikan solusi alternatif lain dengan adanya pengembangan lokasi untuk TPST alternatif selain di TPST Piyungan.

”Harusnya lokal TPST ditambah tidak hanya terpusat di Piyungan saja. Saat ini tiap harinya rata-rata sampah yang masuk ke TPST Piyungan lebih dari 400 ton. Banyak yang mengatakan selama TPST ada di wilayah Bantul, maka Kabupaten Bantul tidak akan pernah mendapatkan Adipura,” keluhnya.

Heriyanto, warga kawasan Piyungan yang tak jauh dari TPST mengeluhkan selain aroma tidak sedap, kualitas air juga kurang baik. Belum lagi keluhan dari warga di sekitar jalan akses menuju TPA yang setiap hari dilalui puluhan truk sampah. (Aje)

Kredit

Bagikan