Harga Sembako Naik, Ini Yang Bakal Dilakukan Para Petani

user
danar 15 Januari 2018, 05:17 WIB
untitled

KARANGANYAR, KRJOGJA.com - Kenaikan harga beras di pasaran diklaim tidak meresahkan masyarakat Karanganyar yang mayoritas petani. Sebab, kalangan ini biasanya memiliki cadangan gabah dari panenannya untuk konsumsi sendiri.

"Saya justru berharap petani diuntungkan dengan kenaikan harga beras. Kalau sampai petani juga membeli beras dan resah dengan harga naik, itu kan ironis. Berulangkali ditekankan jangan jual semua panenan. Sebagian disimpan untuk konsumsi harian dan berzakat," kata Bupati Karanganyar, Juliyatmono saat berbincang dengan KRJOGJA.com, Minggu (14/1/2018).

Di pasar Jungke Karanganyar, harga beras premium dari Rp 9 ribu per kilogram menjadi Rp 10.500 sampai Rp 11 ribu ribu perkilo. Sedangkan beras medium dari Rp 8 ribu menjadi Rp 9 ribu.

Bupati mengatakan jika seluruh petani di Karanganyar membagi hasil panen padi untuk konsumsi sendiri, dijual dan berzakat, ia meyakini mereka tak terimbas kenaikan harga beras. Lagipula, hanya sebagian kecil dari total masyarakat Karanganyar membeli beras, sedangkan mayoritas memproduksi sendiri.

Sementara itu Asisten Sekda Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesra, Siti Maesyaroch mengatakan operasi pasar penjualan beras dengan menggandeng Perum Bulog belum perlu dilakukan di Karanganyar. Menjadi wilayah lumbung padi, lanjutnya, stok beras untuk konsumsi sendiri terhitung cukup.

"Kita selalu surplus beras tiap tahun. Warga Karanganyar yang mayoritas petani, biasanya mengamankan stok. Jadi mereka tidak perlu nempur beras ke pasar. Namun demikian, perkembangan harga pasar terus dipantau. Sebab kenaikan harga beras kemungkinan memicu kenaikan harga komoditas lain," katanya.

Menurutnya, operasi pasar untuk komoditas beras tak boleh didasari euforia daerah lain. (Lim)

Kredit

Bagikan