Inflasi DIY Terkendali

user
ivan 05 Juli 2019, 04:17 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Inflasi DIY tercatat cukup rendah sebesar 0,25 persen (mtm) memasuki periode Lebaran di awal Juni 2019. Rendahnya inflasi tersebut dapat dicapai seiring dengan penurunan tekanan dari kelompok pangan bergejolak (volatile food).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan mengatakan, pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Mei 2019 sebesar 0,42 persen (mtm). Dengan realisasi tersebut laju inflasi tahun kalender 2019 mencapai 1,74 persen (ytd) dan inflasi tahunan 3,11 persen (yoy).

"Kelompok tersebut mengalami deflasi -0,28 persen (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode Mei 2019 sebesar 0,89 persen (mtm) maupun inflasi volatile food lebaran tahun 2018 sebesar 1,21 persen (mtm)," ujar Hilman.

Hilman menyampaikan, upaya pengendalian harga dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga kecukupan pasokan pangan di DIY efektif dalam menekan lonjakan harga pada saat momen Hari Besar Keagamaan Nasional. Realisasi impor bawang putih 69.507 ton hingga Mei 2019 efektif menambah jumlah pasokan di pasar, sehingga harga mengalami deflasi - 21,79 persen (mtm).

"Adapun pada komoditas daging ayam ras, walaupun sempat mengalami lonjakan harga pada saat lebaran di awal bulan namun selanjutnya harga daging ayam terus turun hingga mengalami deflasi sebesar -3,04 persen (mtm). Penurunan harga daging ayam tersebut disebabkan produksi yang melebihi jumlah permintaan pasar, sehingga stok cenderung melimpah," jelasnya.

Wakil Ketua TPID DIY ini menambahkan, deflasi pangan sedikit tertahan komoditas cabai merah yang mengalami lonjakan harga mencapai 39,26 persen (mtm). Peningkatan harga tersebut dipengaruhi oleh kekeringan yang melanda di beberapa sentra produksi, sementara permintaan masih cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan perayaan Idul Fitri.

"Dengan terjaganya komoditas pangan, sumber tekanan inflasi Juni 2019 berasal dari kelompok administered prices, utamanya pada kelompok transportasi," tegas Hilman.

Lonjakan permintaan pada moda transportasi angkutan udara, angkutan antarkota dan kereta api untuk keperluan mudik mendorong adanya peningkatan harga masingmasing sebesar 5,73 persen (mtm), 9,66 persen (mtm), dan 9,34 persen (mtm) dibanding bulan sebelumnya. Dari hasil pemantauan harga, lonjakan tarif transportasi diperkirakan bersifat sementara dan akan kembali stabil pada Juli 2019.

"Sejalan dengan terjaganya inflasi di DIY, tekanan inflasi inti pada Juni 2019 juga terjaga, yang didukung oleh ekspektasi inflasi masyarakat yang semakin baik melalui sosialisasi dan edukasi," imbuh Hilman. (Ira)

Kredit

Bagikan