Polda DIY Gandeng Netizen Jogja Perangi Hoax

user
agus 10 Agustus 2019, 10:10 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - Acara Ngopi Bareng Polda DIY bersama Netizen bertema Silaturahmi dan Pembinaan Netizen di RM Kopi Klotok Seturan, Sleman, Jumat (09/08/2019) malam berlangsung meriah. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi netizen dalam memerangi hoax di media sosial.

Sejumlah relawan yang tergabung di Masyarakat anti fitnah indonesia (Mafindo) tampil memberikan materi. Mereka focus membangun kekuatan melawan penyebaran berita hoaks, bagaimana manfaatkan medsos ke arah yang lebih baik.

"Situasi sekarang ini, misalnya polarisasi Pemilu 2019 kemarin, mungkin ada yang berantem di grup teman, grup keluarga, kami catat cukup banyak, gara-gara berbeda pendapat," kata ketua Mafindo Septiaji Eko Nugroho pada saat menyampaikan materi.

upaya untuk membenahi perilaku di medsos, Aji menyebut tak sebatas tahu Teknologi Informasi (IT), tapi juga harus lebih bijak memakai medsos.Menurutnya, ada sekitar 150 juta akun FB di indonesia, mungkin satu orang punya 2 akun, indonesia sebagai salah satu pengguna medsos masif di dunia. Tapi belum semua para pengguna bisa memahami menyaring informasi di medsos, pengguna asal share tak menyadari dampaknya seperti apa, apakah informasi itu hoaks atau tidak.

Indonesia memiliki bonus demografi, negara manapun bisa maju ketika bisa memanfaatkan dengan baik bonus demografi itu, salah satunya bertanggung jawab dalam pemakaian medsos. "Tantangan adalah kita sendiri, apakah kita mampu menjamin yang kita lakukan di medsos kita, apakah tak menciderai anak cucu ke depan," ungkapnya.

Saat ini sudah ada kolaborasi melawan konten negatif dengan konten positif di Indonesia, modal keguyuban. Masyarakat mau terlibat aktif sebagai agen perubahan. "Di mafindo, ada komunitas cek fakta, berkolaborasi dengan FB, kita cek berita hoaks, jika dampaknya serius kita bersihkan konten negatif itu. kerja sama dengan FB di Indonesia, dan sejumlah media, kementerian kominfo, dan polri," jelasnya.

Mafindo juga menerapkan edukasi literasi digital bersama, melalui media video yang bisa di tonton dan di contoh. Hal itu sebagai salah satu upaya memahamkan bagaimana netizen berperilaku di medsos dengan baik.

"Benteng pertama adalah dari lingkungan keluarga, upaya kita mengajak masyarakat bagaimana literasi medsos. sosialisasi ke pelajar di sekolah, juga ke komunitas komunitas," ucapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Kombes Pol Yuliyanto, mengapresiasi peran serta masyarakat, komunitas atau relawan yang berkampanye memerangi hoaks. "hoaks ini tak hilang begitu saja setelah pilpres selesai, karena sampai saat ini, hoax masih muncul di medsos. Contohnya kemarin waktu PLN mati, muncul sejumlah informasi hoaks. ketika ada musibah gempa, juga muncul hoaks soal bencana itu," tutur Yuli.

Yuliyanto menambahkan, ke depan hoaks diprediksi terus ada, hanya bagaimana pengguna medsos menyikapi dan belajar agar tidak termakan hoaks. Kata Yuli, netizen harus bijak memakai medsos, saring sebelum sharing informasi. (Ive)

Kredit

Bagikan