Pembagian Daging Kurban Hindari Pakai Kantung Plastik, Kenapa?

user
danar 07 Agustus 2019, 07:10 WIB
untitled

KLATEN, KRJOGJA.com - Pemerintah Kabupaten Klaten menghimbau masyarakat agar menggunakan bahan ramah lingkungan untuk saat Hari Raya Idul Adha, dan tidak menggunakan plastik kresek untuk membungkus daging kurban.

Himbauan itu tertuang Surat Edaran yang ditandatangani Sekretaris Daerah Jaka Sawaldi Nomor 658.1/670/25 tanggal 24 Juli 2019 tentang Pengurangan Timbunan Sampah Plastik.  Surat himbuan yang ditujukan kepada seluruh Kepala Perangkat Daerah, Camat, instansi vertikal, kepala sekolah, takmir masjid dan komunitas sungai itu meliputi tiga hal pokok. Yakni, agar panitia sholat Idul Adha 1440 Hijriyah mengelola sampah serta alas sholat dari kertas dengan baik.

Selain itu, agar takmir masjid mengelola kotoran hewan dengan baik, tidak dibuang ke sungai dan sembarang tempat sehingga mencemari lingkungan.  Yang tak kalah penting adalah, agar takmir masjid dalam mendistribusikan daging kurban tidak menggunakan kantong plastik, melainkan menggunakan pembungkus ramah lingkungan, dan mudah diurai seperti daun pisang, daun jati, besek bambu atau pandan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Klaten, Srihadi Selasa (6/8/2019) menjelaskan, warga perlu memperbaiki tata cara penanganan daging kurban termasuk kotoran hewan kurban secara benar.

“Pemerintah menghimbau jangan lagi ada masyarakat yang membuang kotoran daging kurban ke sungai yang tidak disadari mengotori lingkungan. Kotoran hewan kurban cukup ditimbun agar terurai oleh tanah, sehingga bisa menjadi pupuk. Kebiasaan-kebiasaan salah itu perlu diubah,” kata Srihadi.

Lebih lanjut dijelaskan, untuk mendukung penghematan penggunaan plastik, saat pembagian daging kurban dihimbau masyarakat tidak menggunakan kantung plastik.  Selain membahayakan, sampah plastik sangat sulit diurai tanah dan mencemari lingkungan.  Masyarakat bisa mencari alternatif bahan yang ramah lingkungan seperti daun jati, besek bambu atau pandan, daun kelapa atau daun pisang.

“Dengan besek bambu misalnya selain ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan,  juga menggerakan ekonomi masyarakat, khususnya pengerajin bambu di desa,” tambah Srihadi. (Sit)

Kredit

Bagikan