Ekosistem Ekonomi Kreatif Belum Berkembang

user
agus 11 September 2019, 17:35 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Untuk mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan proses dan kepercayaan diri dari pelaku. Meski ekosistem ekonomi kreatif sudah berjalan hampir 5 tahun, masih belum berkembang secara pesat.

"Proses terus berjalan untuk berkolaborasi. Tidak kalah pentingnya harus punya kepercayaan diri khususnya subsektor musik agar mampu memberi jalan kesejahteraan," ujar Dr Ir Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf Indonesia saat membuka Bekraf Creativ Labs (BCL) bertajuk 'Jogcreasic Camp and Competition' di Hotel Neo+ Awana, Jalan Kolonel Sugiono, Mantrijeron, Rabu (11/09/2019).

Kegiatan diberi pengantar Dr Nur Sahid MHum (Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat/LPPM ISI Yogyakarta), sambutan tertulis Prof Dr M Agus Burhan MHum (Rektor ISI Yogyakarta) dibacakan Dr St Hanggar Budi Prasetyo (Pembantu Rektor I ISI Yogyakarta). Kegiatan ini diselenggarakan  LPPM ISI Yogya bersama Bekraf Indonesia berlangsung hingga Kamis (12/09/2019).

Dalam kesempatan itu, terpilih peserta Musik Hasil Festival 1, 2, 3, Grup Musik Jatiraga, Fortune dan Alang-alang Gamelan Jawa Bali. Saat pembukaan, Grup Musik Jatiraga menampilkan 2 reportoar 'Kidung Lembayung' dan 'Caplokan'.

Menurut Wawan Rusiawan, ekosistem ekonomi kreatif memang masih punya Pekerjaan Rumah (PR), yakni konsistensi dan kontinyu agar menemukan eksistensi, ekosistem ekonomi kreatif bisa memberi kesejahteraan bagi stakeholder musik. "Subsektor Musik ini memang perspektif berbeda, dari kapitalisasi dan nilai tumbuh musik lokalitas dan keindonesiaan mampu memberikan kesejahteraan," ucapnya.

Pada bagian lain, Wawan Rusiawan menyinggung soal sekitar 3.000 lagu yang sudah berhasil dilakukan digitalisasi. "Itu itu lagu-lagu sejak tahun 1920-an hingga 1980-an," katanya. Lagu-lagu  merupakan aset nasional dan memiliki nilai ekonomis. Bekraf juga membuat program 'Hello Dangdut' dan Portamento. "Portamento kaitannya dengan royalti lagu dan semacam remunerasi. Ini untuk program jangka panjang. Industri musik harus bisa mengangkat kesejahteraan musisi maupun stakeholder yang terlibat," tandasnya.

Sedangkan Nur Sahid mengatakan, kegiatan ini menjadi satu acuan untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh berbagai karya musik yang dikompetisikan dengan memunculkan warna musik Indonesia.

Jogcreasic Camp and Competition 2019, hari pertama, Rabu (11/09/2019) juga diadakan  seminar dengan tema 'Implementasi Hak Cipta Musik dalam Kompetisi Musik Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0'  dengan narasumber Dr Ir Wawan Rusiawan (Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf), Bens Leo (Pengamat musik), Monica Damayanti SH MSi (Kemenhum DIY) dan Wardoyo SE MM (Dinas Pariwisata DIY). Acara hari kedua, Kamis (12/09/2019) berupa Workshop Musik dan Master Class' dengan narasumber I Wayan Balawan (gitaris dari Jakarta), Andi Bayou (musisi-Jakarta). (Jay)

Kredit

Bagikan