Prodi Kependidikan Unimus Gelar Workshop Penelitian

user
tomi 04 September 2019, 09:16 WIB
untitled

SEMARANG, KRJOGJA.com - Prodi S1 Pendidikan Kimia, S1 Pendidikan Matematika, dan S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar workshop metodologi penelitian pendidikan dengan pembicara Yuli Rahmawati MSc PhD, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di kampus setempat, Selasa (3/9/2019).

Dekan Fakultas Matematika dan IPA Unimus Dr Eni Winaryati MPd saat membuka acara untuk para mahasiswa dan dosen ini menyatakan workshop sangat penting membuka wawasan keilmuan, terutama menyangkut paradigma penelitian di perguruan tinggi. Pembicara merupakan salah satu pakar penelitian di Indonesia yang mumpuni dalam penelitian jenis kualitatif, kuantitatif, mixed method bahkan bisa menyandingkan ilmu seni (arts) masuk secara baik di banyak penelitian bidang eksaktanya. Sehingga lengkaplah ilmu pengetahuan teknologi dan seni (ipteks) tidak hanya iptek (tanpa seni) di dalamnya.

Pada pengantar workshop yang dipandu Kaprodi S1 Pendidikan Kimia Unimus Fitria Fatichatul Hidayah Ssi MPd, Yuli Rahmawati MSc PhD menyampaikan banyak karya penelitian maupun jurnal internasional bereputasi yang ditulisnya menggunakan gabungan art (misal sejarah, sastra dan sejenisnya). Cara ini membuat ilmu tidak terkotak-kotak atau terpisah tegas antara sains dan seni. Pengerjaan secara mendalam dengan jenis dan metode penelitian yang pas yang menjadikan karya-karyanya justru diterima di jurnal internasional (Q1) yang semula di jurnal nasional malah ditolak.

Lebih lanjut menurut lulusan S2 dan S3 Curtin University, Australia ini menyatakan perlu kerja keras membuka "gap fanatisme" keilmuan di Indonesia dan luar negeri. Dirinya membuka wawasan contoh bentuk lain penulisan artikel ilmiah yang menggabungkan ilmu ekasakta dan seni tanpa mengurangi kekuatan keilmiahaan materi yang ditulisnya (tetap sangat mendalam). Artikelnya justru sering ditolak di jurnal nasional tetapi diterima di jurnal internasional sangat bereputasi (Q1). Sehingga dia memberi contoh para mahasiswa perlunya berjuang menembus sesuatu yang selama ini (fanatisme) kelompok ilmu untuk bisa bertindak tidak terlalu fanatik. (sgi)

Kredit

Bagikan