Inflasi DIY Januari 2019 Relatif Terjaga

user
tomi 04 Februari 2019, 13:41 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Tekanan inflasi DIY memasuki awal tahun 2019 relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. DIY mencatatkan inflasi 0,42 persen (mtm) atau 2,53 persen (yoy) pada Januari 2019. Realisasi inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,55 persen (mtm) maupun rata-rata inflasi Januari dalam tiga tahun terakhir yakni sebesar 0,77 persen (mtm).

"Namun demikian, pencapaian ini tetap perlu diwaspadai peningkatannya pada bulan-bulan mendatang, khususnya pada bulan-bulan padat kunjungan wisata atau peak season dan high season yang dapat memberikan multiplier effect ke berbagai komoditas penyumbang inflasi," ujar Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY Budi Hanoto di Yogyakarta, Minggu (3/2).

Dilihat dari komponennya, tekanan pada komponen inflasi inti tercatat 0,32 persen (mtm) atau relatif meningkat dari bulan sebelumnya. Inflasi inti pada Januari 2019 terutama dipengaruhi komoditas konstruksi, yakni tarif tukang bukan mandor dan pasir, seiring dengan berkembangnya pembangunan proyek pemerintah maupun swasta menyambut New Yogyakarta International Airport (NYIA). Sementara tarif makanan jadi tercatat meningkat yang dipicu kenaikan harga bahan baku utama, seperti beras dan daging ayam ras secara berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir.

"Tekanan pada komponen administered price tercatat mereda, menjadi sebesar 0,54 persen (mtm). Penurunan harga bahan bakar minyak nonsubsidi pada 5 Januari 2019 lalu menjadi sentimen positif penurunan tekanan inflasi,

meskipun tekanan harga tarif angkutan udara akibat permintaan yang tinggi untuk arus balik liburan masih menjadi faktor tingginya inflasi administered prices," tegasnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY ini menambahkan, komponen volatile food kembali mengalami penurunan tekanan inflasi menjadi 0,66 persen (mtm). Penurunan tersebut dipengaruhi mulai stabilnya pasokan telur ayam dan cabai merah, sehingga harga komoditas tersebut kembali menurun. "Sementara itu komoditas pangan seperti beras dan bawang merah masih mengalami peningkatan harga, akibat masih berlangsungnya masa tanam. Panen pertama pada pengujung Triwulan I 2019 diperkirakan mampu menambah pasokan dan mendorong penurunan harga," tutup Budi. (Ira)

Kredit

Bagikan