39 Persen Mahasiswa Terpapar Radikalisme

user
ivan 28 April 2018, 17:53 WIB
untitled

SEMARANG, KRJOGJA.com - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan menyatakan negara tak meragukan jiwa ‘merah putih’ Nahdlatul Ulama (NU). Sejarah juga turut menjadi saksi perjuangan panjang NU dalam turut menegakkan NKRI. Hal itu disampaikan Budi Gunawan di hadapan ratusan peserta Ceramah Umum Kepala BIN kepada BEM Perguruan Tingi NU Se-Indonesia yang digelar Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) bertepatan dengan Kongres Ke-6 BEM Perguruan Tinggi NU Se-Indonesia di Kampus Fakultas Kedokteran Unwahas, Sabtu (28/04/2018).

"Kita semua tahu bagaimana sejarah perjuangan kaum Nahdliyin memperjuangkan berdirinya NKRI. Bahkan NU merupakan Ormas pertama yang menerima Pancasila sebagai azaz. NU telah menjaga rumah Indonesia sejak awal perjuangannya,” kata Budi Gunawan.

Pada tahun 1935, NU memutuskan tidak akan mendirikan negara Islam. NU justru membahas kebangsaan dan kenegaraan, ketika itu disepakati negara Indonesia jadi Darul (daerah) Islam, jadi bukan Daulah (negara) Islam.

Bahkan menurut Budi Gunawan, pada Muktamar NU 2017 menelurkan pemikiran bahwa hubungan agama dengan negara tidak boleh manipulatif. Dari sinilah, Budi Gunawan berharap NU dapat menjadi penyemangat dalam upaya mempertahankan dan menjaga ideologi Pancasila.

Terkait berkembangnya paham radikal, Budi mengungkapkan hal itu masuk ke lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan berdasar pengamatan Badan Intelijen Negara sekitar 39 persen mahasiswa sudah terpapar ajaran radikal. "Fenomena ajaran radikal di kalangan mahasiswa memanfaatkan kepolosan secara psikologis pada mahasiswa yang sedang dalam proses pencarian jatidiri,” ungkapnya.

BIN sendiri memantau dan menemukan setidaknya ada tiga perguruan tinggi yang sudah dijadikan basis penyebaran paham radikal. Fenomena paham radikal sangat dipengaruhi oleh isu di Timur Tengah dan proses perekrutannya dilakukan secara tertutup.

Dalam catatannya, tidak ada satu pun gerakan radikal atau terorisme yang berafiliasi dengan NU. Hal tersebut membuahkan harapan bahwa NU mampu menjadi pelopor untuk menolak tegas paham tersebut, apalagi dari kalangan PTNU telah membekali sejak dini mahasiswanya dengan paham Aswaja.

Senada dengan Budi Gunawan, Rektor Unwahas Mahmutarom HR memaparkan, jauh sebelum NU berdiri para ulama telah membentengi warganya dari paham radikalisme dengan Aswaja. Dalam kesempatan ini Mahmutarom juga menegaskan, PTNU dengan BIN memiliki kesamaan yakni membendung paham radikal dan teroisme. (Cha)

Kredit

Bagikan