Satu Keluarga Belasan Tahun Tinggal di Gubuk Reyot

user
danar 04 April 2018, 16:20 WIB
untitled

”Kalau hujan harus berdiri atau sembunyi dibawah meja biar tidak basah. Karena rumahnya bocor”.

ITULAH yang harus dilakukan Sukino (49) sekeluarga. Rumah yang dia tempati sudah tidak mampu lagi melindungi dia, istri dan keempat anaknya dari hujan.

Bangunan 3x6 meter2 tersebut tidak bisa disebut rumah. Berdinding bambu dimana sinar matahari dapat leluasa masuk. Atapnya juga harus ditutup dengan terpal. Agar air hujan tidak masuk. Di satu sudut terdapat kayu besar yang sengaja dibuat untuk menopang bangunan induk yang nyaris ambruk.

Tidak ada kasur untuk sekedar melepas lelah. Hanya terdapat satu karpet usang serta tikar yang akan digelar ketika hendak tidur. Jika tiba-tiba turun hujan, mereka harus segera bangun. Karena lantainya basah. Termasuk pakaian juga ikut basah.

“Meja itu untuk tidur anak. Kalau hujan sembunyi di bawahnya atau berdiri saja,” kata Sukino.

Itulah yang menjadi tempat tinggal Sukino bersama keluarganya selama 15 tahun ini. Hanya bekerja sebagai buruh serabutan, membuat warga Dusun Karangmlojo RT 3 RW 2 Desa Purwomartani Kecamatan Kalasan Sleman ini tidak bisa memberikan 'papan' yang layak bagi keluarganya.

Tak heran, rasa haru tidak kuasa mereka sembunyikan ketika ada dermawan yang membangunkan rumahnya. Berada atas tanah warisan, mereka mendapatkan bantuan rumah dari Pengurus Cabang Muhammadiyah Kecamatan Kalasan dan LAZISMU Kalasan.

“Terimakasih karena sudah membantu kami. Ini adalah jawaban atas doa kita sehari-hari,” ujar Partinem (36) sambil menyeka air mata.

Untuk membangun rumah seluas 4x9 meter2 tersebut menghabiskan dana Rp 97 juta. Material Rp 64 juta, tenaga Rp 21 juta dan bantuan dari pemerintah berupa bahan Rp 11 juta.

“Ini kita bangun selama dua bulan. Kami berpesan kepada Bapak Sukino agar rumah ini diisi dengan ibadah,” ujar Pimpinan Cabang LAZISMU Kalasan Agus Suparto.

Kunci rumah diserahkan LAZISMU melalui Pemerintah Kecamatan Kalasan. Oleh Camat Kalasan Siti Anggraheni kunci diberikan kepada Sukino. Menurutnya, rumah ini betul-betul tidak layak huni. “Mereka tidurnya masih jadi satu. Padahal semuanya sudah dewasa. Bukan balita lagi,” katanya.(Atiek Widyastuti H)

Kredit

Bagikan