Dilewati Tol Soker, Sragen Ubah Tata Ruang

user
danar 02 April 2018, 14:31 WIB
untitled

SRAGEN, KRJOGJA.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen terpaksa merevisi tata ruang karena wilayahnya dilewati tol Solo-Kertosono (Soker). Apalagi Sragen nantinya memiliki dua simpang susun atau interchange (IC) yang merupakan pintu keluar masuk jalan bebas hambatan bagian dari tol Trans Jawa tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Sragen, Tugiyono ditemui di ruang kerjanya Senin (2/4/2018) mengatakan, adanya dua pintu tol itu harus ditangkap sebagai peluang untuk mengembangkan Sragen agar bisa lebih eksis. Banyak hal yang harus dilakukan dengan adanya dua IC tersebut, karena akan banyak kendaraan yang keluar masuk melalui Sragen.

Menurut Tugiyono, peluang dari tol Soker bisa dilihat dari banyak hal. Bisa dari sisi industri dimana para investor akan senang karena mempercepat pengiriman dan bongkar muat barang. Juga dari sisi kuliner yang sangat potensial untuk dikembangkan di Sragen. "Sisi lainnya, pertanian dan pariwisata yang bisa digarap untuk ditawarkan. Sangiran misalnya, bisa terus dikembangkan dengan meminta bantuan dari pusat dan provinsi," jelasnya.

Pengembangan wisata itu, jelas Tugiyono, juga harus menjalin kerjasama dengan kabupaten atau kota di wilayah Soloraya dan daerah timur. Adanya pintu tol yang ada di Jalan Solo-Purwodadi, jelas memudahkan mereka yang ingin berkunjung ke Sangiran karena aksesnya bisa lebih mudah dan cepat.

"Pemkab juga tengah membangun jembatan di Klayudan di perbasatan Sragen-Boyolali guna memudahkan para pengunjung datang ke Sangiran," tandasnya.

Selain ke Sangiran, adanya jembatan dan pelebaran jalan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) itu memudahkan mereka yang hendak ke kawasan industri Gemolong-Sumberlawang serta lapangan golf internasional yang rencananya bakal berdiri di Kalijambe. Revisi itu sudah disusun Pemkab Sragen lewat DPUPR.

Ditambahkan Tugiyono, keberadaan tol Soker yang melintasi Sragen memang telah 'memakan' 220 hektare sawah lestari. Hal ini jelas berpengaruh pada posisi Sragen sebagai penyangga ketahanan pangan nomor dua terbesar di Jawa Tengah.

"Tentunya harus pintar-pintar menyiasati bagaimana intensifikasi lahan yang ada untuk tetap bisa menjadi penyangga pangan. Butuh kerja keras seluruh pemangku kepentingan di Sragen, khususnya Dinas Pertanian (Distan) dan Dinas Ketahanan Pangan (DKP)," tambahnya. (Sam)

Kredit

Bagikan