Tol dan Bandara Baru Modal DIY Pacu Pertumbuhan Ekonomi

user
tomi 13 November 2019, 18:40 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - PTTEP Indonesia dan Universitas Trisakti, Program Pascasarjana MM-Sustainability menggelar acara Seminar Nasional Membangun Kemitraan yang Berkelanjutan untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), Rabu (13/11/2019).

Beberapa hal dibahas antara pemerintah, swasta dan masyarakat untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi di DIY dalam penyelarasan dengan pembangunan berkelanjutan SDGs.  Pembicara dihadirkan seperti Kepala Bappeda DIY, Budi Wibowo, Ade Noerwenda, praktisi pariwisata hingga Afiat Djajanegara, General Affairs Manager PTTEP Indonesia. Beberapa hal dibahas dalam seminar tersebut diantaranya strategi DIY untuk mencapai tujuan SDGs yang dicanangkan pemerintah tercapai pada 2030.

Kepala Bappeda DIY, Budi Wibowo mengungkap saat ini pemda sedang menggerjakan rencana aksi daerah yang terus dimonitor setiap enam bulan sekali. Tujuannya, agar pembangunan di DIY mengarah pada pembangunan berkelanjutan yang dituju pemerintah pusat hingga 2030 nanti.

“Kami punya rencana aksi daerah, monitoring setiap enam bulan sekali. SDGs untuk kami itu artinya Sedoyo Dipun Gatosaken, no one left behind, tidak ada yang tertinggal di belakang,” ungkap Budi pada wartawan usai pembukaan seminar di Hotel Marriot.

Secara khusus, Pemda DIY menurut Budi tengah mengejar ketertinggalan lantaran masih berpredikat daerah dengan angka kemiskinan tertinggi nasional. Pembangunan bandara baru yang saat ini terus dikembangkan termasuk tol yang memudahkan akses perpindahan menjadi dua proyek yang ditargetkan bisa memangkas angka kemiskinan dan mendukung kesejahteraan masyarakat DIY.

“Di dalam SDGs ini ada 17 sasaran dengan ratusan indikator, adanya bandara baru di Kulon Progo dan tol bisa menurut kami bisa mendongkrak. Kulon Progo 10,17 persen pertumbuhan ekonominya dan ini wow sekali. Kami berusaha menjaga keberlanjutannya salah satunya dengan pembangunan tol Yogya-Cilacap sehingga nantinya pada 2021 masyarakat sudah bergerak seiring dengan Aeropolis City juga sudah mulai dibangun. Ini yang diharapkan Pemda bisa memangkas angka kemiskinan di DIY,” tandas Budi.

Sementara Ade Noerwenda mengatakan, DIY memiliki sisi pariwisata yang sangat mungkin dikembangkan meski masih tertinggal dibandingkan beberapa daerah lain seperti Jawa Timur dan Bali yang memang wilayahnya lebih besar. Industri pariwisata menurut dia menjadi pemicu potensial pertumbuhan ekonomi masyarakat yang seharusnya tetap menjadi perhatian pemerintah dan stakeholder lainnya.

“Dari sudut pariwisata, SDGs ini sangat penting. Industri ini terus berkembang di saat industri lain turun. Industri pariwisata bergantung pada ekosistem bisnis dan SDGs ini jadi pondasi kuat untuk bangun ekosistem pariwisata dan DIY memiliki potensi ini,” ungkap dia.

Afiat Djajanegara, General Affairs Manager PTTEP Indonesia sendiri menyatakan komitmen untuk terus menggandeng kerjasama pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan SDGs Indonesia pada 2030. “Kami akan terus bergerak dan berkolaborasi dengan stakeholder lokal di tiap daerah untuk mewujudkan kerja nyata membangun Indonesia,” pungkasnya. (Fxh)

Kredit

Bagikan