Kahar Mudzakkir Ajak Berjuang, Sardjito tak Digaji

user
ivan 09 November 2019, 12:57 WIB
untitled

PENGANUGERAHAN gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh Yogyaakrta, Prof KH Abdul Kahar Mudzakkir dan Prof Dr Sardjito merupakan kebanggaan dan syukur tersendiri bagi Universitas Islam Indonesia (UII). Tidak semata-mata karena UII bersama beberapa Lembaga lain ikutserta memperjuangkan pengakuan pahlawan nasional.

Namun bagaimanapun juga tidak lepas karena Prof Kahar merupakan salah satu pendiri yang juga Rektor pertama  UII. Sedang Prof Sardjito adalah Rektor ketiga UII.

“Beliau berdua telah menjalankan tugas masing-masing dengan luar bisa,” Rektor UII Fathul Wahid kepada media, Jumat (08/11/2019) kepada awak media, di kampus Jl Kaliurang.  Penganugerahan gelar tersebut baru dilaksanakan Jumat siang di Istana Negara Jakarta.

Prof Kahar, kenang Fathul, adalah sosok perintis sejak pertama berdiri dan dihadapkan masa sulit pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI) bersama Mohammad Hatta, 8 Juli 1945. Meski demikian, beliau mampu menanamkan nilai-nilai keislaman diapdu dengan nilai intelektualitas. Dan beliau, tambah Fathul, juga menanamkan rasa kebangsaan yang sungguh luar biasa.

“Ketika warga, rakyat Indonesia mempertahankan Republik, UII diliburkan. Dosen, mahasiswa dan karyawan bersama rakyat mempertahankan negara. Tetapi Prof Kahar tetap merawat UII. Sehingga Milad IV UII 1949 dilakukan di tengah peperangan di Desa Tegalayang Srandakan Bantul. Karena menjaga eksistensi," kenang Fathul Wahid mengenai tokoh asal Kotagede yang juga anggota BPUPKI dan ikut menggagas Pembukaan UUD, Pancasila.

Prof Kahar adalah lulusan Mesir dan pernah menjadi Direktur Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Menjabat sebagai Rektor UII sejak 1945 – 1960 dan selalu berangkat dinas dengan mengendari andong. Kini, andong tersebut menjadi salah satu koleksi Museum UII.

Sementara Prof Sardjito di mata Rektor UII sekarang juga menjalankan tugas kesejahteraan yang lain. Menjabat Rektor UII pada 1964 - 1970, membuka banyak cabang UII di kota lain. Saat itu UII mulai memiiki fakultas eksakta, Fakultas Kedokteran, Peternakan, Teknik dan Farmasi. Prof Sardjito yang sebelumnya adalah Rektor Universitas Gadjah Mada, lanjut Fathul, wafat tahun 1970, masih menjabat sebagai Rektor UII.

“Lebatnya buah yang ditanam Prof Sardjito sungguh tidak terduga. Waktu itu, UII tersebar di 8 kota dengan 22 fakultas. Yang luar biasa dan menjadi teladan, selama menjabat sebagai Rektor UII, Prof Sardjito tidak pernah menerima gaji, uang siding. Sebab bagi Prof Sardjito, memberi akan membuat kita menjadi kaya,” kenangnya.

Teladan-teladan ini disebut Fathul sangat menarik untuk kita sekarang.

Gelar pahlawan, memang tidak pernah diminta kedua tokoh tersebut. Namun penerus meski bukan keluarga yang ingin menghormati, memuliakan mereka lah yang mendoba mengajukan permohonan. Dan perjalanan panjang disebut Fathul harus dilewati UII.

Bahkan pertamakali mengajukan permohonan tersebut pada tahun 2014 ditolak. Namun tentu saja hal itu tidak menyurutkan langkah. Kerja sama dengan pelbagai pihak yang terkait seperti UGM, Muhammadiyah dan dorongan pemerintah daerah, membuat upaya tersebut terus dilakukan.

“Dan kami baru divisitisasi Agustus 2018 dan kemudian divalidasi secara fisik. Waktu itu yang memimpin sejarawan Anhar Gonggong. Untuk melihat bagaimana UII mengabadikan secara fisik,” ungkap Fathul. (Fsy)

Kredit

Bagikan