Permainan Tradisional Diharapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

user
danar 29 Agustus 2022, 06:10 WIB
untitled

KULONPROGO, KRJOGJA.com - Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kulonprogo menggelar Festival Nglarak Blarak diikuti 12 tim perwakilan dari 12 kapanewon di kabupaten ini. Permainan tradisional yang menggunakan blarak atau daun kelapa kering sebagai pengganti kuda tersebut memperebutkan hadiah jutaan rupiah dan menarik perhatian masyarakat.

Menurut inisiator permainan tradisional tersebut, Joko Mursito, Nglarak Blarak merupakan permainan tradisional yang digali dari adat tradisi budaya masyarakat asli di Kulonprogo. Terutama warga yang tinggal di wilayah perbukitan menoreh dan bekerja sebagai penderes nira, setiap hari memanjat pohon kelapa termasuk 'berurusan' dengan blarak.

"Dari fakta tersebut kita kreasikan antara budaya, permainan tradisional dan olahraga," katanya di sela memimpin Festival Nglarak Blarak di Lapangan Karangsari, Kapanewon Pengasih, Minggu (28/8/2022).

Diungkapkan, pada permainan Nglarak Blarak tingkat nasional tahun 2014 silam yang diikuti 33 provinsi, Kabupaten Kulonprogo meraih juara dua. Bahkan pada 2016, Kulonprogo menjadi duta DIY mengikuti festival serupa tingkat internasional yang diikuti 169 negara.

"Saat ini Kulonprogo mewakili DIY bahkan Indonesia menjadi juara pertama tingkat internasional," ungkap Joko Mursito yang menjabat Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kulonprogo itu menambahkan permainan tradisional Nglarak Blarak syarat nilai kebersamaan dan kekompakan.

Festival Ngalarak Blarak tahun ini sebagai bagian memeriahkan Peringatan ke-77 Hari Kemerdekaan RI dan Satu Dasawarsa Keistimewaan DIY.

Sementara itu Kepala Kundha Kabudayan setempat Dra Niken Probo Laras mengungkapkan, permainan Nglarak Blarak menggunakan media pelepah kelapa, bumbung bambu dan blarak. Festival diikuti 12 kontingen dari setiap kapanewon. Setiap tim beranggotakan enam orang, terdiri tiga orang laki-laki sebagai penarik kuda blarak dan tiga perempuan bertugas pembawa keranjang, loncat menggunakan keranjang dan berselancar beralaskan kaki dari sepet atau kulit kelapa sekaligus joki kuda. Pihaknya berharap melalui festival, permainan tradisional Nglarak Blarak bisa lestari sebagai warisan budaya tak benda.

"Hari ini, ada lima bumbung yang diperebutkan dan cara permainannya, tim mengambil bumbung sebanyak-banyaknya. Kalau dapat tiga bumbung atau lebih banyak maka mereka akan menjadi pemenang. Sedangkan, jika kedua tim terjadi seri maka ditentukan dengan sekali permainan lagi," ungkapnya menambahkan festival bekerjasama karang taruna se-Kulonprogo. (Rul)

Credits

Bagikan