Paku Alam: Kearifan Lokal Warga DIY, Kemiskinan Jadi Anomali

user
jono 25 Agustus 2022, 05:21 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.Com - Tingkat kemiskinan di DIY tidak bisa hanya dilihat dari angka statistik, namun juga harus dilihat dari kearifan lokalnya. Yakni budaya untuk hidup yang tidak konsumtif, efisien dan lebih mengutamakan kebutuhan yang lebih penting, seperti pendidikan.

”Karena itu, ketika dilihat angka kemiskinan pada laporan BPS, maka DIY tertinggi nasional. Namun jika melihat usia harapan hidup, indeks kebahagiaan dan indeks pembangunan manusia (IPM) justru masuk tertinggi nasional,” ungkap Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X saat menerima jajaran PT BP Kedaulatan Rakyat (KR) yang dipimpin Direktur Utama M Wirmon Samawi SE MIB di Kepatihan, Rabu (24/8). Dirut didampingi Komisaris Utama Prof Dr Inajati Adrisijanti, Direktur Umum Yuriya Nugroho Samawi SE MM MSc, Direktur Produksi Baskoro Jati Prabowo SSos, Direktur Pemasaran Fajar Kusumawardhani SE dan Direktur Keuangan Imam Satriadi SH, Redaktur Pelaksana Primaswolo Sudjono SPt dan Aries Winantyo (Sekretariat Direksi)

Kearifan lokal yang dimaksud tersebut, jelas Paku Alam, seperti kebiasaan di pedesaan misalnya, lebih mementingkan pendidikan anak, ketimbang membelanjakan kebutuhan yang

konsumtif. Lebih baik dibelikan ternak, dibesarkan. Untuk kemudian dijual saat membutuhkan, seperti keperluan sekolah anak.

Karena itu jika menyebut bagaimana kondisi kemiskinan di DIY, maka anomali. Tidak bisa dibandingkan dengan provinsi lain. Disebutkan, meski masyarakat hidup dalam kesederhanaan, tapi mereka miliki rasa sosial, kepedulian terhadap sesama serta budaya untuk meringankan

sesama yang sangat tinggi.

Jadi ketika seseorang ada kesulitan tidak akan lepas membantu tetangga maupun saudara dan semua itu menjadi kekuatan tersendiri. Padahal selama ini indikator kemiskinan yang digunakan oleh BPS biasanya dihitung berdasarkan pengeluaran perkapita setiap bulan. Dimana model penghitungan itu tidak tepat sepenuhnya diberlakukan untuk masyarakat DIY yang masih memiliki rasa

sosial yang tinggi.

Dalam pertemuan tersebut Wagub DIY banyak memberikan masukan bagi eksistensi KR ke depan. Sebagai media massa tertua di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini, KR diharapkan juga terus mengikuti perkembangan zaman, termasuk diantaranya membuat berbagai konten publik yang bersifat lebih kekinian. Meski saat ini kemajuan teknologi cukup cepat, tidak ada kata terlambat untuk melakukan penyesuaian, namun tanpa melupakan akar yang dimiliki.

Dalam kesempatan itu, Dirut Wirmon Samawi menyampaikan perkembangan KR yang pada tanggal 27 September 2022 memasuki usia 77 tahun. Seiring bertambahnya usia, terus berusaha menjaga eksistensi. Dirut mengapresiasi saran dari Paku Alam. Sebetulnya selama ini KR juga sudah mengikuti perkembangan zaman yakni dengan memasuki dunia digital. Dengan masukan tersebut, akan lebih gencar lagi. (Ria)

Credits

Bagikan