Cerita Arya Pradana, Trah Ketujuh Sultan HB 2 Pilih Tinggalkan Dunia Entertainment untuk Bantu Sesama

user
ivan 11 Agustus 2022, 22:00 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Sekilas mungkin tidak ada yang berbeda dari sosok R Arya Pradana, keturunan ketujuh HB 2. Pria 37 tahun yang kini tinggal di Kotagede ini hidup layaknya orang pada umumnya dengan kegiatan biasa.

Namun, ternyata Arya memiliki banyak sekali pasien yang setiap hari datang ke rumahnya. Garasi rumah pun diubah, tak digunakan untuk memarkirkan mobil, namun diisi kasur untuk berbaring pasien saat menjalani pengobatan darinya.

Arya membuka praktik pengobatan alternatif. Ia memanfaatkan bakat alami yang didapatkannya sejak lahir, ia memiliki kelebihan indra keenam yang kemudian dimanfaatkan untuk membantu sesama.

Arya mengungkap, kemampuannya untuk membantu sesama disadari saat ia berada di bangku kelas 1 SD. Saat itu ia tinggal menetap di pulau Sumatera, mengikuti kerja sang ayah di wilayah Sumatera Utara.

“Saat itu anak teman ayah saya yang nangis sakit empat hari tiga malam. Ternyata anak itu digoyang-goyang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Saya diajak masuk, saya hanya melihat ada simbah-simbah, saya dada dan gandeng simbah yang ada di anak itu keluar. Lalu anak itu diam berhenti nangis. Padahal saat itu anak itu sudah didoakan beberapa kiyai tapi tetap saja menangis. Itu awal mula saya menyadari gift ini bisa membawa manfaat untuk sesama,” ungkapnya ketika berbincang dengan wartawan di kediamannya, Kamis (11/8/2022).

Sejak kecil memang Arya kerap dilihat berbeda dari anak-anak lainnya. Ia menceritakan jika setiap hendak menyeberang jalan, tangannya selalu merasa digandeng oleh seseorang yang sebenarnya tidak bisa dilihat orang.

“Kalau nyebrang jalan, tangan saya selalu naik, seperti sedang digandeng orang yang lebih besar. Padahal ya tidak ada orang kalau dilihat, tapi ya itu katanya yang menuntun melindungi saya. Kalau saya sakit juga, saya selalu dijenguk banyak sekali orang begitu, kamar saya sampai penuh begitu, ya hanya saya yang bisa lihat,” sambungnya lagi.

Di masa remaja, Arya sempat menjadi musisi, ia membentuk grup band di Jakarta yang sempat membawanya ke dunia entertainment. Namun, lambat laun ia kembali menyadari passion hadir untuk membantu sesama.

“Dulu saya ngeband, itu gitar-gitar saya masih ada sampai sekarang. Tapi kemudian saya menyadari, kalau tetap harus membantu orang. Saya tinggalkan band, dunia eksbis, yasudah buka praktik. Di Jakarta, saya buka Senin-Jumat, namun Sabtu-Minggu saya praktek di Yogyakarta. Setelah Den Sepuh (ayah) meninggal dunia, saya pindah menetap di Jogja, sampai hari ini,” ungkapnya lagi.

Arya mengungkap, ia bisa mengobati berbagai penyakit baik medis maupun non medis. Pasiennya beragam, mulai masyarakat tidak punya hingga para jendral dan pejabat-pejabat dengan kedudukan tinggi.

“Pasien saya banyak sampai luar kota bahkan Riau dan Bengkulu. Kemarin Pak Nuryadi, Ketua DPRD DIY juga datang, dua kali. Beliau menyebut saya guru spiritual. Tapi di sini saya sampaikan, pada siapapun saya tidak pernah menarif, semampu dan seiklasnya. Kalau tidak mampu, saya tidak minta bayar,” ungkapnya lagi.

Kepada wartawan, Arya juga menceritakan para pasien datang dengan berbagai persoalan. Ada yang sakit karena medis hingga terkena guna-guna seperti santet dan pelet.

“Ada yang karena di pelet, di santet, dan hal-hal yang mungkin di luar akal sehat kita ya. Tapi kalau santet, saya hanya mau untuk menghilangkan saja, tidak untuk dikembalikan atau serang balik begitu, saya tidak mau. Niat saya baik, hanya perantara saja, yang menyembuhkan tetap Allah Gusti Pangeran ya,” lanjutnya.

Arya yang juga memiliki wisata Bhumi Arya di Petir Gunungkidul ini berniat terus membantu sesama dengan kelebihan yang dimiliki. Ia berharap bisa membawa manfaat untuk sesama, dengan tujuan yang baik.

“Selama saya bisa membantu, akan terus dilakukan. Bagaimanapun pesan leluhur-leluhur saya harus bisa membawa manfaat untuk sesama,” pungkas dia. (Fxh)

Credits

Bagikan