Kasus Penggelapan, Kepala Kantor Pos Kecamatan Rembang Ditangkap di Denpasar

user
agus 27 Juli 2022, 13:15 WIB
untitled

PURBALINGGA, KRJOGJA.com – Petualangan ES (30), mantan Kepala Kantor Pos Cabang Pembantu Rembang berakhir di sel tahanan Mapolres Purbalingga. Setelah tiga bulan menghilang, tim Satreskrim Polres Purbalingga meringkusnya di sebuah hotel di Denpasar Bali pada 14 Juli 2022.

“Tersangka ES menggelapkan uang sebesar Rp 396.485.077. Uang itu seharusnya untuk membayar gaji ketigabelas pensiunan, BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), serta hasil penjualan benda pos dan materai,” tutur Kapolres Purbalingga AKBP Era Johny Kurniawan, pada konferensi pers, Rabu siang (27/7/2022).

Era Johny menambahkan, pada 22 April 2022, ES selaku Kepala Kantor Pos Cabang Pembantu Kecamatan Rembang Purbalingga mengelola kas operasional sebesar Rp 443.424.364. Dana itu bersumber dari dana kas kantor pos cabang Purbalingga.

Dana ratusan juta itu dialokasikan untuk pembayaran pensiun ketigabelas Taspen Rp 150 Juta, pembayaran pensiun ketigabelas BPTP Rp 50 Juta, penyaluran BNPT Kemensos RI Rp 100 Juta, dan penyaluran dana wesel nasional dan internasional serta jasa pelayanan keuangan lainnya.

Pada hari yang sama, selain melakukan penyaluran dana kepada masyarakat, ES selaku kepala kantor pos cabang pembantu Rembang juga menerima uang dari kegiatan pembayaran online dari masyarakat. Meliputi pembayaran tagihan listrik, cicilan kendaraan, pembayaran pajak dan lainnya sebesar Rp 52.513.004.

Pada akhir jam kerja sekitar pukul 15.00, ada dana kas sebesar Rp 394.409.977. Uang itu seharusnya disimpan dalam brankas untuk kegiatan penyaluran pensiun ketigabelas dan BPNT pada esok harinya.

Alih-alih menyimpan, ES malah menggunakan uang itu ditambah hasil penjualan benda pos dan meterai sebesar Rp 2.075.100 untuk keperluan pribadinya.ES menggunakan uang itu untuk urusan lain.

“Tersangka menyetorkan Rp 200 Juta ke rekening BCA atas namanya. Kemudian digunakan untuk deposit trading crypto binance Rp 150 Juta. Dari rekening itu ES juga membayar utang kepada pihak lain Rp 20 Juta dan untuk keperluan lain Rp 10 Juta,” ujar Kapolres.

ES juga menggunakan dana Rp 52 Juta untuk membayar pinjaman pribadinya di sebuah lembaga jasa keuangan di kecamatan Pengadegan. Sisanya digunakan untuk keperluan pribadi. Termasuk biaya perjalanan dan penginapan di hotel selama pelariannya ke Denpasar.

“Saat ditangkap, ES masih mengantongi uang tunai Rp 2.700.000. Menurut pengakuannya, tinggal uang itu yang masih tersisa,” ujar Era.

Berdasar keterangan ahli perhitungan kerugian keuangan negara dari Kantor Perwakilan BPKP Jateng, perbuatan warga Desa Penolih Kaligondang itu mengakibatkan kerugian negara, yakni BUMP PT Pos Indonesia sebesar Rp 396.485.077. Penyidik Polres Purbalingga menjerat tersangka ES dengan Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 subsider Pasal 8 Juncto Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Tindak Pidana Korupsi.

Dengan pasal berlapis itu, tersangka ES terancam hukuman penjara seumur hidup dan denda Rp 1 Miliar. Dan serendah-rendahnya hukuman paling singkat 4 tahun dan denda Rp 50 Juta. (Rus)

Kredit

Bagikan