Indonesia Posisi 3 Kasus TB Terbanyak Dunia

user
agus 19 Juli 2022, 08:48 WIB
untitled

SOLO, KRjogja.com - Penyakit tuberculosis paru atau TBC masih menjadi penyakit kronis dengan populasi angka kesakitan cukup tinggi. Saat terjadi pandemi Covid-19 selama 2 tahun, kasus TB meningkat secara global. Badan kesehatan dunia WHO merilis,  diperkirakan sekitar 4,1 juta orang penderita TB belum terdiagnosis.

Pakar ilmu penyakit paru dan kedokteran respirasi, Prof Dr Yusup Subagio Sutanto menyebut di Indonesia kasus TB juga masih cukup tinggi. Saat ini diperkirakan terdapat 845.000 kasus TB biasa dan 24.000 kasus TB resisten. Pada saat pandemi Covid tercatat dari 845.000 kasus TB terdeteksi 349.000 kasus dan 860 kasus TB resisten.

Data terbaru Kemenkes pada 21 Oktober 2021 menunjukkan, kasus TB di Indonesia terdapat 301 kasus per 100.000 penduduk sehingga menempatkan Indonesia di posisi ke-3 kasus TB terbanyak di dunia. "Upaya menekan meningkatnya penderita TB paru sulit karena kuman TB yang resisten memiliki kekebalan luar biasa," jelas Prof  Yusup Subagio yang akan dikukuhkan guru besar pulmonologi Fakultas Kedokteran Univesitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (19/7).

Ia dikukuhkan sebagai guru besar bersama Prof Dr Sri Subanti, dosen FMIPA di bidang ilmu statistika ekonomi dan Prof Dr Zainal Arifin, dari Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT). Pengukuhan dilakukan rektor Prof Dr Jamal Wiwoho dan Ketua Senat Akademik Prof Dr Adi Sulistiyono.

Menurut Prof  Yusup Subagio, kesulitan dalam pengobatan TB yakni lapisan lilin yang menyelimuti kuman harus dipecahkan sehingga pengobatan butuh waktu lama sedikitnya 6 bulan tanpa putus. Penelitian untuk menghasilkan obat TB sangat mahal. Di Indonesia, pemerintah kewalahan sampai memberikan alat pendeteksi TB dengan TCM. Dengan alat ini diketahui banyak orang menderita TB.

Dalam beberapa tahun terakhir ia melakukan penelitian terhadap lendir bekicot, kitosan, ekstrak kulit durian yang memiliki khasiat untuk meningkatkan kesehatan paru sekaligus mengatasi kekebalan kuman TB.

"Berdasarkan hasil Riset dasar yang telah saya lakukan ada potensi dan efektivitas galenik seromukoid bekicot, kitosan, ekstrak kulit durian, sebagai kandidat OAT yang berbasis bahan alam," ungkapnya. Ia mengakui, penelitiannya merupakan studi pendahuluan untuk menjajagi roadmap pengobatan TB berbasis bahan lokal alami. Penelitiannya masih harus dikembangkan dengan penelitian berikutnya, karena ketiga bahan tersebut memiliki kemampuan masing-masing dalam membunuh, menghambat dan memperlambat populasi kuman TB.

Selain efektivitas lendir bekicot yang mengandung seromukoid dan bahan kimia lain yang bermanfaat sebagai antibakteri, ditambah kandungan zat kitosan dan ekstrak kulit durian, bahan-bahan tersebut mudah didapat di alam dengan harga sangat murah.-(Qom)

Kredit

Bagikan