Gudeg Makanan Bersejarah Asli Jogja Terancam Punah, Ini Penyebabnya

user
Ary B Prass 12 Juli 2022, 14:27 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Gudeg sejak dulu dikenal sebagai makanan khas Yogyakarta. Ratusan bahkan mungkin ribuan warung gudeg dari kelas kaki lima hingga restoran tersebar di wilayah DIY.

Gudeg sendiri memiliki riwayat sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari Yogyakarta maupun Kerajaan Mataram. Konon, gudeg sudah ada sejak masa awal berdirinya Kerajaan Mataram.

Guru besar di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM Murdijati Gardjito yang juga seorang penulis buku berjudul Gudeg Yogyakarta, menjelaskan bahwa gudeg pertama kali dibuat oleh prajurit saat babat alas pembuatan pembangunan kerajaan Mataram.

Saat itu, kerajaan Mataram baru akan didirikan di daerah bernama Alas Mentaok.

“Saat pembangunan kerajaan Mataram di Alas Mentaok, banyak pohon ditebang. Di antaranya ada pohon nangka, melinjo dan kelapa. Karena buah dari pohon ini melimpah, prajurit membuatnya sebagai masakan kemudian terciptalah gudeg,” begitu kata Murdijati dalam buku Gudeg Yogyakarta.

Meskipun dikenal sebagai makanan khas Yogyakarta namun Gudeg saat ini dinilai bisa terancam keberadaannya. Hal ini tak lepas dari ketersediaan bahan utama Gudeg yaitu nangka atau gori.

Budayawan, Joko Kanigoro mengatakan bahwa Gudeg sebagai makanan khas di Yogyakarta ternyata belakangan ini tak dipikirkan konsistensinya. Joko menerangkan jika ke depan bisa saja terjadi krisis Gudeg di Yogyakarta.

“Ya mungkin saja ke depannya Gudeg ini akan terancam keberadaannya. Kondisi ini kita lihat dari ketersediaan bahan baku utama pembuatan Gudeg yaitu nangka muda atau gori ternyata tidak bisa dipenuhi oleh bahan dari Yogyakarta. Nangka muda atau gori untuk membuat Gudeg ini hampir seluruhnya didatangkan dari luar Yogyakarta. Kita ketergantungan dari daerah lain. Padahal kebutuhan nangka atau gori ini di Yogyakarta ini sangat besar,” ungkap Joko, Selasa (12/7/2022).

Joko menilai seandainya ada kejadian luar biasa yang kemudian berpengaruh pada pasokan nangka atau gori tentu akan berdampak pada Gudeg di Yogyakarta.

Kondisi ini seharusnya mulai dipikirkan oleh pemerintah daerah dan segera dicari solusi terbaiknya.

Joko menerangkan jika mengandalkan bahan nangka atau gori dari daerah lain, bisa saja di daerah penghasil nangka itu suatu saat terkena imbas pembangunan sehingga pohon-pohonnya terpaksa harus ditebang.

Hal ini tentu saja akan berdampak pada industri Gudeg di Yogyakarta.

“Pemerintah daerah di DIY harusnya melihat kondisi ini. Mereka harus membuat semacam hutan pohon nangka atau kebun nangka yang luas untuk menjaga pasokan bahan utama Gudeg. Nanti harga bisa terus stabil dan ketersediaan bahan terjamin,” imbuh Joko.

Sementara, Ketua Paguyuban Gudeg Wijilan, Chandra Setiawan Kusuma mengakui jika bahan baku utama pembuatan Gudeg yakni gori masih mengandalkan suplai dari daerah lain.

Chandra menerangkan, gori yang saat ini digunakan biasanya didapat dari daerah Jawa Tengah hingga Sumatera.

“Sekarang masih nangkanya dari daerah Jawa Tengah. Kalau pas di Jawa tidak musim, pakai nangka dari Sumatera. Sebagian besar dari daerah Lampung kalau dari Jawa kurang,” ungkap Chandra.

Chandra menyebut pihaknya mendukung penuh apabila ketersediaan nangka bisa dipenuhi sendiri dari wilayah Yogyakarta.

Selain memotong jalur distribusi juga harga nangka bisa lebih murah yang artinya akan berdampak positif pada konsumen akhir.

“Iya (mendukung jika ketersediaan nangka bisa dipenuhi dari perkebunan di Yogyakarta). Saya berharap bahan bisa terpenuhi dari Yogyakarta saja,” pungkas Chandra. (Fxh)

Kredit

Bagikan