Pusing, Para Peternak Ayam Berharap Harga Pakan Diturunkan

user
danar 05 September 2022, 16:50 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - Saat ini harga telur yang meroket membuat semua lapisan masyarakat menjerit. Tak terkecuali para peternak ayam itu sendiri. Baru saja bangkit usai rendahnya harga ayam, kini mereka dihantam isu tingginya harga telur yang membuat daya beli masyarakat turun.

"Peternak baru saja bangkit usai Lebaran lalu, kini sejak Agustus awal sudah dihantam dengan tingginya harga telur," ujar Presidium Perhimpunan Perunggasan (Pinsar) Peternak Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso kepada wartawan di Fakultas Peternakan UGM, Senin (5/9/2022) .

Dalam acara itu, hadir beberapa peternak yang meminta saran agar Fakultas Peternakan UGM memberi solusi masalah ini.

Menurut Yudianto, tingginya harga telur ayam membuat daya beli masyarakat menurun. Hal ini kemudian berimbas pada menurunnya penghasilan para peternak.

Dia mengatakan usaha peternakan merupakan bisnis hilir dan biologis. Dimana para peternak tak bisa mentargetkan hasil produksi karena berbagai macam faktor, seperti kematian dan penyakit. Belum lagi dipengaruhi oleh faktor hulu, misal harga pakan.

"Ini yang jadi masalah kami, harga pakan sangat tinggi. Termasuk juga DOC atau anakan ayam," ujar Yudianto.

Kenaikan harga pakan yang sebagain besar impor, kata dia, dipicu oleh perang Ukraina. Sehingga pasokan berkurang dan hargannya pun melambung.

Belum lagi harga DOC yang terbilang tinggi. "Harga DOC ditetapkan pemerintah Rp 9 ribu sampai Rp 11 ribu. Kenyataannya DOC yang dijual lewat beberapa tangan sampai di peternak dengan harga Rp 17 ribu. Di satu sisi harga pakan belum turun," ujarnya.

Oleh karena itu, dia pun meminta warga masyarakat untuk memahami kondisi ini. Sebab, peternak juga menginginkan roda ekonomi tetap berputar.

"Kami tidak boleh jual telur dengan harga tinggi sementara penjual pakan boleh sesukanya menaikkan harga," tegasnya.

Kemudian, dia pun ingin memberi masukan kepada pemerintah. Menurutnya Harga Acuan Pemerintah (HAP) seperti kebutuhan pakan ternak distribusi dan DOC nampak sangat mendesak segera ditetapkan dan memiliki kekuatan hukum pasti.

"Artinya penetapan HAP tidak hanya teori namun punya nilai hukum dan akan dapat sanksi apabila ada pelanggaran. Namun sekarang HAP belum disahkan sudah ada kenaikan harga BBM," jelasnya.

Terkait hal tersebut, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro mengutarakan bahwa UGM selalu terbuka untuk menjadi tempat berkeluh kesah mitra peternak. UGM merupakan rumah bagi asosiasi, payuguban serta koperasi peternak unggas maupun lainnya dan siap memberikan solusi guna kemaslahatan bersama.

"Menyikapi gejolak harga telur, produk peternakan itu memang sensitif dengan perubahan harga. Oleh karenanya kami siap bersama peterak mencari solusi penyelesaiannya," ujar Budi.(*)

Credits

Bagikan