Kawal Kasus Pengeroyokan Suporter, PSS Bentuk Tim Advokasi Bersama BCS

user
agus 01 September 2022, 17:43 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - Manajemen PSS bersama komunitas suporter, BCS membentuk tim advokasi hukum untuk mengawal kasus pengeroyokan yang menewaskan almarhum Aditya Eka Putranda di perlintasan kereta api Jalan Bibis Mejing Kidul Ambarketawang Gamping Sleman 27 Agustus 2022 lalu. PSS akan mendampingi kasus tersebut agar para pelaku mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan mereka.

Direktur Utama PT PSS, Andy Wardhana Putra mengungkap pihaknya menaruh perhatian atas kasus kekerasan tersebut karena berharap tidak akan terjadi lagi hal serupa di kemudiam hari. Menurut dia, PSS mendukung penuh agar kasus tersebut diselesaikan seturut hukum yang berlaku dengan para pelaku mendapatkan hukuman setimpal.

“Kami bersama BCS saat ini sudah membuat tim advokasi untuk mengusut tuntas kasus ini. Semoga dengan adanya hal ini, kasus tersebut bisa segera tuntas serta pelaku diberikan hukuman yang setimpal. Semoga dengan adanya tim advokasi ini membuat kasus ini segera terselesaikan dan pelaku dapat dihukum setimpal agar memberikan efek jera kepada mereka dan hal ini tidak terulang kembali,” ungkapnya melalui rilis tertulis, Kamis (1/9/2022).

Polres Sleman telah menetapkan 12 tersangka atas kasus tersebut yang kemudian disampaikan terafiliasi sebagai bagian dari salah satu suporter DIY. Para tersangka diketahui melakukan pengeroyokan dengan senjata tajam dan tumpul pada korban Aditya yang saat itu bersama dengan tiga rekannya yang lain hendak pulang setelah menonton PSS di Maguwoharjo.

Sebelumnya, dewan penasihat PSS, Sismantoro juga menyampaikan dukungan agar kasus kekerasan yang membawa korban jiwa itu diusut tuntas. Sismantoro berharap kejadian tersebut menjadi yang terakhir sehingga seluruh pecinta sepakbola di DIY termasuk di dalamnya PSS Sleman bisa menikmati sepakbola dengan aman dan damai.

“Kami mendukung langkah tegas dari pihak kepolisian karena apa yang terjadi murni tindak pidana yang harus mendapatkan sanksi hukum secara tegas. Namun selain itu perlu adanya rekonsiliasi riil agar tidak pernah lagi terjadi hal seperti itu. Saya yakin semua tim sepakbola di DIY ini menolak keras adanya kekerasan atasnama apapun,” tandas Sismantoro. (Fxh)

Kredit

Bagikan