Gangguan Psikologis Salah Satu Faktor Bullying di Sekolah

user
Ivan Aditya 09 September 2022, 20:20 WIB
untitled

Krjogja.com - KLATEN – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Klaten menggelar seminar pencegahan bullying di lingkungan sekolah, Kamis (08/09/2022), di Pendapa Pemkab Klaten.

Ketua MKKS SMP Klaten, Kamidi mengatakan, peserta terdiri kepala dan wakil kepala sekolah, guru bimbingan konseling, dan pendidik tingkat SMP, baik negeri maupun swasta di Kabupaten Klaten. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada pendidik terkait perilaku bullying atau perundungan khususnya di lingkungan sekolah.

Kegiatan digelar karena keprihatinan MKKS SMP Kabupaten Klaten sehubungan munculnya perilaku perundungan di kalangan siswa, setelah pembelajaran tatap muka kembali dimulai usai pandemi Covid-19. Di sisi lain, siswa yang menjadi pelaku dan korban justru tidak memahami perilaku yang dilakukan merupakan perundungan.

Nara sumber, Wikan Putri Larasati, menyampaikan bullying tindak kekerasan/agresif yang dilakukan dengan sengaja oleh yang memiliki kelebihan kepada orang lain, serta dilakukan berulang. Bentuknya perundungan secara fisik, verbal, dan relasional hingga menyebabkan penyebaran rumor negatif, mengabaikan, mengisolasi seseorang dalam kelompok.

“Di era digital saat ini ditambah dengan cyber bullying yang biasa dilakukan dalam platform komunikasi digital. Fenomena lain berupa vertical bullying, bentuk perundungan yang dilakukan senior kepada junior,” kata Wikan Putri.

Lebih lanjut Wikan Putri menjelaskan, yang harus diperhatikan adalah penyebab perilaku tersebut, antara lain kurang empati, keinginan untuk balas dendam karena pernah menjadi korban, meniru perilaku kekerasan, gangguan psikologis, hingga kebutuhan emosional tidak terpenuhi.

“Yang paling banyak karena kebutuhan emosional tidak terpenuhi. Tidak ada anak atau siswa yang terlahir menjadi pelaku bullying. Perilaku bullying ibarat fenomena gunung es, yang tampak hanya perilaku agresif. Sebagai pendidik, sering kali kita lupa apa yang kosong dari siswa tersebut, padahal yang dibutuhkan adalah mencari tahu apa yang dibutuhkan siswa,” jelas Wikan Putri.

Wikan menambahkan hukuman kepada siswa pelaku bullying bukan merupakan solusi atau penyelesaian masalah. Justru hukuman akan membawa dampak negatif dan tidak memunculkan self dicipline. Adapun penyelesaian masalah harus fokus pada solusi. Selain itu, pendidik juga harus berkomunikasi dengan orangtua atau wali siswa untuk mendiskusikan solusi terbaik. (Sit)

Kredit

Bagikan