Kalurahan Temon Wetan Luncurkan Bank Sampah 'Sinergi Budaya'

user
Ivan Aditya 09 September 2022, 21:19 WIB
untitled

Krjogja.com - KULONPROGO - Project Manager Kesehatan Jiwa Masyarakat, Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY), Siswaningtyas menjelaskan, gerakan bank sampah membuktikan kelompok disabilitas sebagai pengelola, tidak terkecuali orang dengan disabilitas psikososial yang memiliki stigma tinggi di masyarakat mampu memberdayakan diri.

Gerakan tersebut diharapkan mampu mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bisa diolah, selain itu bank sampah juga sangat baik untuk lingkungan serta mendatangkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Bank sampah tidak hanya menjadi sebuah konsep sebuah tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah, tapi juga sebagai wadah bagi terapi pemulihan orang dengan disabilitas psikososial agar diterima kembali di masyarakat.

"Terbentuknya bank sampah tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kalurahan Temon Wetan, masyarakat dan LSM untuk mewujudkan lingkungan yang lebih inklusif dengan tidak meninggalkan kelompok rentan termasuk orang dengan disabilitas," kata Siswaningtyas di sela sarasehan kelompok swabantu disabilitas psikososial di Kalurahan Temon Wetan dan launching Bank Sampah 'Sinergi Budaya', Jumat (09/09/2022).

Kegiatan sebagai rangkaian memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober mendatang terlaksana kerjasama PRY dan Pemerintah Kalurahan Temon Wetan. Sarasehan dan launching bank sampah 'Sinergi Berdaya' merupakan bagian dari kampanye kesehatan jiwa yang bertujuan memobilisasi dukungan para pihak lintas sektor dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebersamaan dalam menciptakan lingkungan sehat jiwa dan perlakukan yang layak terhadap orang dengan disabilitas di DIY.

Selain launching bank sampah 'Sinergi Berdaya' acara juga menampilkan produk-produk kerajinan tangan, beras hasil budidaya kelompok swabantu Kaligintung dan batik buatan orang dengan disabilitas psikososial yang telah pulih. Siswaningtyas berharap kegiatan tersebut menjadi sarana promosi kesehatan jiwa dan dukungan sosial serta tidak menstigma pada Orang dengan Disabilitas Psikososial. Yang dibutuhkan Orang dengan disabilitas psikososial dan keluarganya, bukan belas kasihan tapi kesempatan, dukungan, penerimaan agar bisa kembali pulih Mandiri dan Berdaya.

Pendampingan dari kunjungan rumah berdasarkan kondisi masing-masing disabilitas psikososial, misalnya sudah minum obat teratur, kondisinya sudah stabil, difasilitasi untuk terapinya dalam Self Help Group/SHG. "Forum SHG menjadi kelompok sharing, memang bentuknya sebagai kelompok saling membantu," tuturnya.

“Dulu saya awal jadi ODDP, rasanya kurang bebas, jadinya ada rasa dengar-dengar suara-suara, tidak bisa tidur selama satu minggu, tapi beransur-ansur saya minum obat terus pendampingan dari YAKKUM, saya dapat kegiatan kader kesehatan, terus mengajar TPA, kemudian PKK, saya juga membatik bersama kelompok batik Canting Manis Batik, saya menjadi semangat," kata Nur Zainah (35) warga Kalurahan Temon Temon, salah satu ODDP. (Rul)

Credits

Bagikan