Tim Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J Datangi Polda DIY, Ada Apa?

user
Tomi Sujatmiko 13 September 2022, 06:36 WIB
untitled

Krjogja.com - SLEMAN - Tim kuasa hukum Bryan Yoga, korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oknum polisi, mendatangi Mapolda DIY, Senin (12/9). Kedatangan mereka untuk memastikan, kasus tersebut ditangani secara pro justicia, baik penanganan pelanggaran kode etik maupun pidana pengeroyokan, menyangkut pasal 170 KUHP.

Tim kuasa hukum dari Jonshon Panjaitan Associates meminta, agar Kapolda DIY segera menyelesaikan berkas perkara tindak pidana yang terjadi Sabtu (4/6) silam tersebut. Untuk melancarkan proses pemeriksaan, mereka meminta agar Kapolda melakukan penahanan terhadap oknum polisi yang terlibat.

"Kami minta Kapolda DIY melakukan tindakan yang terukur dan profesional dengan membersihkan oknum-oknum yang melakukan kekerasan dan memanfaatkan penanganan kasus yang merusak kehormatan dan wibawa organisasi. Segera selesaikan berkas perkara pengeroyokan dengan lengkap, transparan dan adil," ujar Jonshon Panjaitan, kepada wartawan.

Jonshon yang merupakan tim kuasa hukum keluarga Brigadir J dalam kasus Ferdy Sambo ini menjelaskan, kliennya menjadi korban pengeroyokan oleh oknum Polres Sleman pada 4 Juni 2022. Peristiwa bermula saat terjadi pertengkaran antara kliennya dengan seseorang warga sipil berinisial KN di sebuah tempat hiburan malam.

Pertengkaran berujung pengeroyokan itu, selanjutnya berbuntut dibawanya klien mereka ke Mapolres Sleman untuk diamankan atas permintaan oknum polisi. Sesampainya di Polres Sleman, lanjutnya, pelapor kembali mendapatkan tindak kekerasan oleh dua orang yang diduga oknum perwira polisi.

"Akibat perlakukan oknum Polres Sleman tersebut, klien kami berusaha kabur dari Polres Sleman untuk meminta tolong karena dianiaya. Namun nahas, klien kami ditabrak oleh mobil yang mengakibatkan klien kami dirawat di rumah sakit selama 19 hari," tandasnya.

Johnson menjelaskan, dalam kasus ini, terduga pelaku tidak hanya dua orang, LV dan AR yang merupakan polisi yang bertugas di Polres Sleman. Melainkan ada pelaku lain, bahkan sampai sekitar enam orang terlibat. Berdasarkan keterangan saksi, lanjutnya, ia menduga ada upaya rekayasa penanganan kasus dan obstruction of justice dalam perkara tersebut.

Ia meminta keadilan ditegakkan dan oknum polisi yang terlibat juga harus diberi hukuman setimpal.
"Kami coba komunikasikan dan coba luruskan supaya ini on the track. Supaya kasusnya ini kode etik harus ditangkap ditahan, harus diadili. Jangan ada lagi kasus dibonsai ya, korting-korting gitu lho," tegasnya.

Wakapolda DIY Brigjen Pol R Slamet Santoso dikonfirmasi mengatakan, perkara tersebut masih dalam proses penanganan. Kedua oknum anggota yang diduga terlibat, juga telah menjalani sidang kode etik dengan jumlah saksi yang diperiksa sebanyak enam orang. "Saya pastikan sesuai prosedur dan tidak ada rekayasa ataupun obstruction of justice . Di Yogya, selama ini penanganan perkara kita laksanakan seusia prosedur," tegasnya. (Ayu)

Credits

Bagikan