'Jogja Coffee Week', Diskusi Tentang Logistik dan Ekspor Kopi ke Mancanegara

user
agus 09 September 2022, 09:11 WIB
untitled

Pesta Kopi Yogyakarta ”Jogya Coffee Week” kedua telah berakhir. Mengakhiri rangkaian kegiatan Jogya Coffee Week ini, panitia penyelenggara telah menyelenggarakan bincang bersama  dengan para pemain kopi, peneliti dan pengamat internasional.

Dalam diskusi yang dipimpin Robby Kusumaharta, Wakil Ketua KADIN DIY ini tema yang diangkat adalah tentang logistik dan ekspor kopi ke mancanegara.

Pembicara pertama Joko Tavianto dari Universitas Logistik Bisnis Indonesia menyatakan bahwa  komoditas kopi memiliki peta rantai yang cukup sederhana, yakni dari petani, pengumpul, pengolah dan kemudian ke pasar hingga ke konsumen. Pada masing-masing mata rantai terdapat peluang bisnis yang cukup besar, misalkan pada rantai pengumpul atau pengelola dapat berkembang beberapa bisnis misal sebagai pengumpul hasil kopi dari para petani, sebagai pengolah buah kopi menjadi bubuk kopi, sebagai bisnis jasa pengantaran ke pembeli kopi bahkan sebagai eksportir,” jelas Joko Tavianto.

Sementara itu M Satiadharma, akademisi Universitas Logistik Bisnis Indonesia menambahkan bahwa secara keilmuan ULBI sebagai perguruan tinggi pertama yang fokus pada pada bidang logistik dan rantai pasok di Indonesia pada prakteknya sangatlah dibutuhkan oleh para stakeholder dalam mengatur tata niaga kopi. Dengan demikian sekolah ini dapat membantu peningkatan ekspor kopi karena para mahasiswanya telah mendapat pengetahuan yang mumpuni mengenai logistik dan distribusi komoditi.

Pembicara ketiga, Bagas Hapsoro, mantan Dubes RI untuk Swedia mengatakan bahwa Indonesia memiliki kekuatan untuk terus menjadi pengekspor kopi. Hal ini antara lain karena memiliki 16 single origin. Single origin adalah asal mula, atau tempat pertama kopi itu berasal. Misalnya Aceh Gayo dan Toraja. Kopi-kopi single origin umumnya diolah dengan serangkaian proses yang memerhatikan standar tertentu dan kualitas khusus.

Kopi Indonesia menurut Bagas juga memberikan manfaat positif bagi petaninya. Selama pandemi Covid-19, perkembangan ekonomi yang dihasilkan  kopi selalu meningkat. Dampak pertumbuhan kopi juga dirasakan langsung oleh petani, mengingat 96% dari tanaman kopi adalah dari perkebunan rakyat.

Namun demikian perlu diketahui bahwa tantangan kopi Indonesia juga besar. Antara lain hambatan perdagangan oleh negara pengimpor dan rantai pasok global.

Pembicara keempat Yuanita Rachma dari House of Barista Surabaya mengingatkan bahwa sebenarnya negara pengekspor utama kopi di dunia seperti Brazil dan Vietnam belajar banyak dari sistem pertanian kopi Indonesia. Menurut Yuanita, banyak faktor yang membuat produksi kopi Indonesia kalah dari Vietnam.

Mereka menggunakan metode fertilisasi terhadap tanahnya. Metode ini, kata Yuanita  cukup bahaya mengingat tanah mempunyai keterbatasan kemampuan menerima pupuk.  Hal berikutnya menurut Yuanita adalah bahwa petani Indonesia harus mampu untuk mengetahui tata cara dan prosedur ekspor yang berkualitas. Cara ini terbukti sangat ampuh daripada terus menerus mengandalkan bantuan kepada pemerintah.

Diakkhir diskusi Robby Kusumaharta menyimpulkan bahwa masih ada ruang bagi Indonesia untuk bergerak agar kopi Indonesia ini tidak saja digemari orang di luar negeri tetapi juga mampu mensejaterakan petani di Indonesia. Cara-cara tersebut antara lain adalah perlunya kolaborasi serta pemberdayaan komunitas kopi Indonesia. Hal lain adalah pentingnya kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian kopi seperti Puslitloka Jember dengan kembaga pembangunan seperti GIZ Jerman, IRD Perancis, Dutch Research Council dan Puslitloka Jember. Pemasaran kopi yang efektif di luar negeri dengan kerjasama Perwakilan RI  melalui pameran internasional.

Penyelenggaraan JCW sangat bermakna.  Ada nilai kearifan lokal, pemberdayaan UKM dan  people-to-people. Peranan KADIN dan Pemprov DIY akan menjadikan kegiatan ini pro-rakyat.

Kredit

Bagikan