Selisik Khazanah Tanah Istimewa Melalui The Gateway of Java

user
Tomi Sujatmiko 15 September 2022, 10:52 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Lalu lalang manusia dan hiruk pikuk pagi menjadi tanda bahwa geliat hari sudah dimulai. Langit subuh Denpasar dan Jakarta menjadi saksi bisu keberangkatan pesawat terbang menuju kota budaya, Yogyakarta.

Sepanjang perjalanan dari Kulon Progo menuju Sleman, nampak jelas bahwa Yogyakarta sudah memperlihatkan pergerakan yang cukup signifikan semenjak dihantam pandemi Covid-19.

Akhir pekan di kota ini selalu identik dengan hadirnya armada besar, membawa rombongan pelancong mengarungi beberapa destinasi. Yogyakarta memang istimew, terbukti banyak orang kembali dengan intensitas tinggi. Keistimewaan Yogyakarta adalah bekal yang matang bagi Ambarrukmo untuk kembali menggelar media trip tahunan bertajuk The Gateway of Java. Selain menggandeng Key Opinion Leader (KOL) yang berasal dari Pulau Dewata dan Ibukota, melibatkan KOL asli Yogyakarta juga menjadi salah satu gebrakan teranyar di tahun 2022.

Sepuluh sosok yang terpilih adalah Bisma Karisma (@bismakarisma), Nyimas Laula (@Nyimaslaula), Putri Anindya (@Puanindya), Sarah Azka (@sarahazka), Lystia Novilda (@Lystianvld), Anggertimur (@anggertimur), Aqil Aviv (@aqilaviv), Wimbo Prakoso (@Wimboprakoso), Naufal Huda (@Naufalhuda) dan David Dwi Praharsa (@depepedia).

Menyadur makna filosofi Jawa “Urip Iku Urup” yang membawa arti bahawasanya orang hidup harus saling menjadi “nyala” bagi sesama, begitulah agenda ini tercipta. Visi dan misi media trip ini adalah untuk menggugah kembali geliat pariwisata Yogyakarta yang sempat padam karena pandemi. Trip ini mengemas wisata lokal berbasis komunitas, menonjolkan keelokan alam dan budaya serta tetap menyisipkan nilai-nilai historis dalam balutan perjalanan yang memakan durasi 4 hari 3 malam.

The Gateway of Java Kaping #3 dimulai dengan menginjakkan kaki di salah satu hotel bintang 5 paling bersejarah di Indonesia, Royal Ambarrukmo. Kegiatan esensial ala Kraton yakni Patehan, Jemparingan serta makan malam dengan gaya Ladosan Dhahar, disajikan sarat makna. Menariknya, menu Ladosan Dhahar yang disajikan sangat eksklusif meliputi sepuluh menu kesukaan Raja-Raja dari masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII hingga IX.

Menyusuri jejak sejarah di Yogyakarta memang tiada habisnya, banyak peristiwa penting terjadi yang akhirnya mencipta identitas kebudayaan setempat. Penjelajahan histori daerah istimewa ini dimulai dengan mengunjungi kompleks candi tertinggi, Candi Ijo. Situs peninggalan yang dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 ini memiliki daya tarik yang unggul.

Berada di ketinggian 410 meter diatas permukaan laut, sore itu mata KOL dimanjakan dengan pusparagam langit senja yang memikat. Ambarrukmo bekerja sama dengan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY untuk memberikan informasi sahih mengenai seluk-beluk candi kepada para KOL. Dikenal sebagai kota budaya, Yogyakarta memiliki masyarakat multikultural. Setelah mempelajari sejarah agama Hindu, KOL bertemu dengan komunitas Jogja Walking Tour (@jogjawalkingtour).

Mereka menginisiasi jelajah cagar budaya Kampung Ketandan atau sering disebut kampung pecinan, pemukiman masyarakat Tionghoa sejak zaman Belanda. Akulturasi budaya Tionghoa, Jawa dan kolonial sangat nampak jelas dari gaya arsitektural di kampung tersebut. Melanjutkan wisata historis, KOL bergerak menuju Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dibantu dengan beberapa abdi dalem Keraton, KOL mendapat penjelasan padat nan kaya pengetahuan.

Semesta hari itu seakan mendukung penjelajahan The Gateway of Java. Udara sejuk dan langit yang sedikit mendung seakan mengajak para KOL untuk bisa menikmati sajian minuman khas yang hangat dan penuh rempah.

Sendang Ayu namanya, minuman yang bisa ditemukan di Pasar Ngasem. Bu Mar, salah satu penjual Sendang Ayu, terlihat sedang meracik dengan tangannya yang lincah. Jeruk, jahe, sereh, cengkeh, kapulaga dicampur dengan cantik dalam satu mangkok bersama gula batu. Seorang pelanggan berkata, wedang ini dipercaya memiliki khasiat tinggi untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit.

Selepas dari Pasar Ngasem, KOL berjalan menyusuri gang-gang di kepanewon Kraton menuju Kopi Tadasih. Racikan kopi yang dibuat langsung oleh pemiliknya, Ferza. Berbagai jenis biji kopi tersedia, seperti Mekarwangi, Tabe Burka hingga apem tradisional dengan rasa yang autentik dijual di Kopi Tadasih.

Agenda mengunjungi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan komunitas di DIY menjadi salah satu pilar utama dalam The Gateway of Java. Selain berguna mengenal lebih dekat ekosistem yang sudah eksis, Ambarrukmo juga membuka kesempatan kolaborasi sebanyak mungkin. Di bidang kuliner lainnya, The Gateway of Java tahun ini juga menggandeng Bhumi Bhuvana (@bhumibhuvana) dan Thiwul Ayu Mbok Sum dalam agenda makan siang yang menyajikan dua pengalaman berbeda untuk dirasakan oleh KOL. Bhumi Bhuvana mengusung konsep fine experience yang dikreasikan oleh Bukhi Prima Putri, pemiliknya.

 

KOL diajak untuk makan siang mengitari “magic table”, sebutan pelanggan Bhumi Bhuvana untuk meja tempat mereka makan diselingi obrolan ringan. Mbak Bukhi mempersiapkan kejutan menu untuk setiap pelanggan yang datang. Bahan-bahan makanan yang ada di pasar pagi itu akan ia olah dengan ciamik, mulai dari Anggur Laut hingga Yoghurt tersedia di sana. Sebaliknya, makan siang di Thiwul Ayu Mbok Sum juga tidak perlu diragukan lagi. Di tempat melegenda ini, KOL diajak untuk melihat pembuatan tiwul secara langsung. Proses pengolahannya masih sangat tradisional yakni menggunakan kayu bakar untuk mengukus tiwul.

Kuliner Yogyakarta tumbuh di tengah masyarakat multikultural. Persebaran usaha kuliner di kota ini bisa dibilang cukup masif. Menyadur dari data Bappeda Provinsi DIY, jumlah rumah makan dan restoran yang terdaftar adalah kisaran 1.500 unit di tahun 2022. Jelas, angka tersebut menunjukkan bahwa dunia kuliner cukup variatif. Penjelajahan kuliner dalam The Gateway of Java masih berjalan dengan memperkenalkan KOL pada suatu tempat di bagian utara, Suara Dewandaru. Kedai kopi yang terletak di kaki gunung Merapi ini mengusung konsep listening space dengan puluhan koleksi vinyl dan kaset lawas milik Lana Pranaya, pemilik Suara Dewandaru. Pengunjung dimanjakan dengan suasana sejuk Cangkringan serta alunan musik-musik dari vinyl yang diputar di atas turntable. Kreasi Ambarrukmo dalam The Gateway of Java tahun ini memang lebih luas dibandingkan acara sebelumnya.

Tidak berhenti pada Suara Dewandaru, Ambarrukmo menggandeng salah satu food enthusiast dari Jakarta, Iqbal Rachmat dan mixologist, Retno Redwindsock. Racikan menu kolaborasi antara Chef Eko (Ambarrukmo) dengan Iqbal Rachmat menghasilkan tujuh hidangan mulai dari pembuka hingga penutup. Sedangkan Retno menyajikan tiga minuman spektakuler dengan bahan baku seperti jahe merah, pakcoy dan banyak bahan tradiLanskap Yogyakarta tidak luput dari rangkaian trip The Gateway of Java. Imogiri menjadi destinasi terpilih untuk dijelajahi.

Bertempat di Sungai Oyo, KOL diajak trekking dan menikmati keindahan alam Sriharjo yang masih natural. Sungai Oyo diapit oleh bukit-bukit karst dengan tumbuhan yang cukup lebat. Kegiatan masyarakat desa setempat sangat beragam, selain bercocok tanam, beberapa diantaranya adalah sebagai pembuat arang. Yang menjadi spesial di agenda trekking kali ini adalah momen brunch di pinggir sungai. KOL disuguhi olahan mie yang dimasak secara langsung oleh tim Depot Mie 88 (@depotmie88). Tekstur mie yang kenyal berpadu dengan topping ayam charsiu, pangsit tipis renyah dan chilli oil seakan menjadi obat lelah dalam perjalanan. Selain lanskapnya, Imogiri menyimpan berbagai potensi, salah satunya adalah Kampung Batik Giriloyo. Pemberdayaan masyarakat melalui industri batik inilah yang menarik untuk dikaji.

Jika dilihat dari sejarahnya, kegiatan membatik di desa ini sudah berlangsung sekitar abad ke 17. KOL mengikuti workshop membatik di rumah Ibu Imaroh, pemilik dari Batik Sri Kuncoro. Dari cara memegang canting yang benar hingga cara menggoreskan malam ke muka kain diajarkan secara teliti oleh Ibu Imaroh. Bertepatan dengan diadakannya The Gateway of Java, pesta seni tahunan ARTJOG juga sedang berlangsung. Menjadi destinasi terakhir dalam rangkaian trip, ARTJOG yang bertempat di Jogja National Museum (JNM) menjadi penutup manis. KOL melihat suguhan karya dari 61 seniman Indonesia yang terpajang di lantai satu hingga tiga.

Selain menyusuri Yogyakarta, Ambarrukmo memberikan hospitality maksimal agar KOL bisa merasakan kenyamanan di seluruh properti hotel, Royal Ambarrukmo, Grand Ambarrukmo dan PORTA by The Ambarrukmo. Media trip The Gateway of Java ini menjadi program tahunan Ambarrukmo dengan komposisi KOL dan destinasi yang selalu berbeda di setiap pelaksanaannya. (*)

Credits

Bagikan