Pernikahan Dini di Jogja Melonjak, Hamil dan Takut Dosa Jadi Alasan

user
Agusigit 16 September 2022, 15:31 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Angka pernikahan dini di DIY selama pandemi Covid-19 mengalami peningkatan signifikan. Tim kajian studi Pernikahan Dini Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY menyebutkan, kenaikan pernikahan dini di DIY mencapai lebih dari 200 persen selama tiga tahun terakhir.

Pada 2019, pernikahan dini di bawah 19 tahun DIY mencapai 394 kejadian, kemudian pada 2020 naik hampir tiga kali lipat menjadi 948 kejadian. Pada 2021 mengalami penurunan namun tetap tinggi yakni 757 kejadian.

Ketua Tim Kajian Pernikahan Dini, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY, Warih Andan Puspita, mengatakan pihaknya melakukan survei pada 400 responden berusia 15-59 tahun di lima kabupaten/kota di DIY. Angka tertinggi pada 2021 lalu terjadi di Gunungkidul mencapai 153 kejadian, disusul Sleman dengan 147 kejadian, Bantul 94 kejadian, Kota Yogyakarta 50 kejadian dan Kulonprogo 49 kejadian.

“Dari kejadian pernikahan dini tersebut, permohonan dispensasi pernikahan di lima kabupaten/kota akibat kehamilan yang tidak dikehendaki meningkat. Bahkan dalam beberapa kejadian, perempuan sudah melahirkan bayi saat pengajuan dispensasi pernikahan. Ada empat kecamatan yang berwarna merah karena dalam satu kecamatan yang meminta surat dispensasi pernikahan lebih dari 20 orang," ungkapnya pada wartawan, Jumat (16/9/2022).

Selain kehamilan sebelum pernikahan, menurut Warih, pengajuan dispensasi pernikahan didominasi alasan menghindari berbuat dosa (zina). Dari hasil kajian, 90 persen responden mengaku tidak mengetahui regulasi pernikahan minimal 19 tahun.

“Pengaruh pemanfaatan teknologi informasi, pergaulan yang bebas serta faktor ekonmi serta agama dan budaya juga berpengaruh pada tingginya angka pernikahan dini. Ada pendapat menikahkan anak sejak dini bisa mengurangi beban ekonomi, namun pada kenyataannya dalam kasus salah satu responden, justru anak yang menikah dini semakin membenani keluarga karena belum mandiri,” tambahnya.

Secara psikologis menurut Warih, karena kondisi kejiwaan dan emosi yang belum matang, resiko kekerasan pun akhirnya terjadi. Bahkan ibu yang mengalami baby blues bisa berakhir menjadi bipolar.

Untuk mengatasi persoalan ini, Pendewasaan usia perkawinan (PUP) perlu terus disosialisasikan. Yakni usia perkawinan usia minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Batasan usia tersebut dianggap sudah siap menghadapi kehidupan keluarga dari sisi kesehatan dan perkembangan emosional. (Fxh)

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY saat memberikan keterangan pada media (Harminanto)

Credits

Bagikan