Agar Implementasi Efektif, Pengentasan Kemiskinan di DIY Perlu Penyesuaian

user
Ary B Prass 18 September 2022, 12:27 WIB
untitled

Krjogja.com - Dampak lanjutan di bidang sosial dan ekonomi akibat pandemi Covid-19 diperkirakan akan berlangsung cukup lama, maka upaya pengentasan kemiskinan di DIY perlu mengalami penyesuaian agar implementasinya lebih efektif dan efisien.

Program-program perlindungan sosial yang dijalankan pemerintah dipercaya telah berhasil mengurangi dampak Covid-19 terhadap kemiskinan. Program-program tersebut masih perlu diperluas untuk melindungi masyarakat miskin terhadap guncangan ekonomi.


" Selain itu, perhatian hendaknya diberikan kepada penduduk yang berada di sekitar garis kemiskinan. Penduduk yang berada di sekitar garis kemiskinan tersebut berpeluang untuk terjerembab menjadi miskin manakala pemulihan ekonomi berjalan lambat," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sugeng Arianto di Yogyakarta, Minggu (18/9/2022).


Sugeng menyampaikan pandemi telah berlangsung selama hampir tiga tahun di seluruh dunia. Berbagai upaya pencegahan penularan terus dilakukan. Meskipun demikian, dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 terasa di seluruh bidang kehidupan, baik sosial maupun ekonomi.


"Angka kemiskinan yang selama beberapa tahun terakhir turun secara konsisten kembali meningkat akibat pandemi ini. Jumlah dan persentase penduduk miskin DIY mengalami peningkatan 2 tahun terakhir, seiring dengan terjadinya pandemi Covid-19," tandasnya.


Menurut Sugeng upaya untuk mengembalikan program pengentasan kemiskinan ke jalurnya tentu memerlukan informasi dan data yang akurat. Pada periode waktu 2013 hingga 2019, sebelum pandemi, jumlah penduduk miskin DIY mengalami penurunan 104 ribu jiwa. Pada tahun 2013, jumlah penduduk miskin tercatat masih sebanyak 553,07 ribu  jiwa. Namun pada tahun 2019, angka penduduk miskin tersebut berkurang 448,47 ribu jiwa.


"Sayangnya, penduduk miskin DIY kembali meningkat menjadi 475,72 ribu jiwa pada 2020. Hal tersebut mengembalikan kondisi kemiskinan mendekati kondisi 2017. Pada 2021, jumlah penduduk miskin kembali meningkat menjadi 506,45 ribu jiwa," imbuhnya.


Lebih lanjut, Sugeng menyatakan pembalikan arah laju penurunan kemiskinan juga ditunjukkan indikator persentase penduduk miskin (P0). Angka P0 2020 tercatat 12,28 persen naik 0,58 poin dibandingkan P0 pada 2019. Pada 2021, angka P0 meningkat menjadi 12,80 persen. Sebelum terjadinya wabah Covid-19, rata-rata persentase penduduk miskin DIY berkurang sebanyak 0,62 persen per tahun.


"Wilayah perdesaan tampaknya lebih tahan terhadap gejolak yang ditimbulkan pandemi dibandingkan perkotaan. Pada saat terjadinya pandemi, P0 perkotaan 0,64 persen atau naik 5,88 persen dibandingkan P0 sebelum terjadinya wabah. Pada saat yang sama, P0 perdesaan hanya meningkat 0,42 persen atau naik 3,02 persen. Selain itu, upaya pengentasan kemiskinan di perdesaan terlihat berjalan lebih sukses dibandingkan di perkotaan. (Ira) 

 

Credits

Bagikan