Dosen SV UGM Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat di Kalurahan Sidoharjo

user
Ivan Aditya 31 Agustus 2022, 22:56 WIB
untitled

Krjogja.com - KULONPROGO - Dosen Sekolah Vokasi UGM yang tergabung dalam tim pengabdian kepada masyarakat melaksanakan sosialisasi di Kalurahan Sidoharjo Kapanewon Samigaluh Kabupaten Kulonprogo. Berbagai materi diberikan para dosen mulai dari keselamatan kesehatan kerja (K3), peningkatan sadar gizi, hingga menyiapkan masyarakat siaga terhadap bencana.

Perwakilan dari Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan Sekolah Vokasi UGM, Dr. Savitri Citra Budi, SKM., MPH mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah dilaksanakan pada Jumat (26/08/2022) lalu dengan mengambili tempat di Balai Kalurahan Sidoharjo. Tim pengabdian kepada masyarakat terdiri dari Nia Fararid Askar, MKeb ; Marko Ferdian Salim, SKM., MPH ; Dian Herawati, MPH.

“Ini merupakan tahun keempat kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Kalurahan Sidoharjo. Sasaran dalam kegiatan ini yakni masyarakat dan para pamong,” kata Savitri.

Sosialisasi ini juga dihadiri kader dari 18 padukuhan. Pamong serta kader sengaja dihadirkan karena diharapkan dari mereka nantninya informasi yang diperoleh akan dapat disampaikan kepada masyarakat Sidoharjo.

Dalam sosialisasainya, Nia Fararid Askar mengangkat tema tentang ‘Peningkatan Pengetahuan Kader Tentang K3 untuk Mewujudkan Masyarakat Desa Berbudaya K3’. Menurutnya selama ini K3 hanya dikenal dalam dunia kerja saja, padahal sebenarnya masyarakat juga butuh pengetahuan tentang itu.

“Bahaya dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, oleh karena itu risiko tersebut harus diminimalisir. Caranya dengan mengenali potensi risiko yang mungkin terjadi dan melakukan antisipasi dalam setiap aktivitas,” kata Nia.

Dari pengamatan yang ia lakukan, masyarakat Kalurahan Sidoharjo yang mayoritas bekerja sebagai petani maupun pekebun belum menerapkan K3 dalam aktivitasnya. Budaya bekerja dengan perlengkapan keamanan seadaan masih jadi budaya di tengah masyarakat.

Hal ituter terlihat pada petani yang tak mengenakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja. Hal ini tentunya akan berbahaya mengingat di sawah banyak terdapat ular maupun binatang lainnya yang bisa mengancam keselamatan petani.

Bagi mereka yang bekerja di kebun, tanpa disadari cairan pestisida juga sebenarnya mengancam bahaya. Jika cairan mengenai tangan dapat menimbulkan gatal-gatal dan lebih parah lagi jika terkena mata maupun hidung yang tentunya bisa merusak organ tubuh lebih parah.

“Hal yang dianggap simple namun ternyata itu menjadikan ancaman sangat berbahaya bagi mereka. Budaya K3 inilah yang harus terus ditanamkan kepadamasyarakat,” imbuhnya.

Ia berharap dengan sosialisasi ini masyarakat akan lebih peka dan mengetahui ancaman bahaya yang ada di sekitarnya. Dengan demikian mereka dapat melengkapi diri dan melakukan antisipasi agar keselamatan kesehatan kerja dapat tercipta.

Sementara itu Marko Ferdian Salim dalam paparannya menyampaikan tentang ‘Upaya Promotif dan Preventif Kasus Stunting’. Menurutnya kasus stunting di Kalurahan Sidoharjo masih terbilang tinggi sehingga perlu dilakukan upaya untuk menanggulanginya.

“Penyebab stunting terjadi berawal kurang pengetahuian tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan. Tidak diperolehnya ASI eksklusif pada bayi usia 0 - 6 bulan dan tak mendapatkannya makanan pendamping ASI bagi bayi 0 - 24 bulan,” ungkap Marko.

Pemenuhan gizi ini menurut Marko harus dimulai dari keluarga, khususnya perhatian seorang ibu. Gizi anak harus dipenuhi, khususnya pada masa emas tumbuh kembang bayi.

Sedangkan tema menyiapkan masyarakat siaga terhadap bencana diangkat oleh Dian Herawati dalam sosialisasinya. Ia bahkan membentuk Tim Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) dalam mewujudkan KaTaNa (Kalurahan Tangguh Bencana).

“Tim SIBAT adalah salah satu forum pengurangan risiko bencana dalam kelurahan tangguh bencana. Berperan sebagai pendamping, penggerak, pembimbing, penyuluh, dan motivator yang memobilisasi masyarakat dalam upaya-upaya kesiapsiagaan bencana, penanganan dampak kesehatan, lingkungan dan masalah sosial lainnya maupun tanggap darurat di masyarakat,” jelasnya.

Adanya Tim Sibat diharap akan mampu melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan maupun meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya kelompok rentan dalam pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi risiko bencana. Selain itu juga meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. (*)

Credits

Bagikan