Efek Candu, MUI Dan Polda Berantas Judi

user
Tomi Sujatmiko 20 September 2022, 15:46 WIB
untitled

Krjogja.com - SEMARANG Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah bersama Polda Jateng sepakat dan berkomitmen untuk bersama-sama berperan memberantas perjudian. Ulama dengan pencegahan dan kepolisian dengan penindakan. Hal itu terungkap pada acara Ulama Menyapa yang ditayangkan langsung TVKU Semarang, Senin sore (19/9).

Ulama Menyapa bertema Kesigapan Kepolisian dan Peran Ulama dalam Memberantas Perjudian di Jawa Tengah dipandu host Myra Azzahra. Menghadirkan Ketua MUI Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji dan Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi.
Kiai Ahmad Darodji menegaskan, aktivitas judi khamr atau miras merupakan perbuatan setan yang harus dijauhi setiap umat beragama agar selamat. Judi mempunyai efek candu, di mana sebagian pelakunya terobsesi untuk mengulanginya lagi.

"Hebatnya judi ini meski kalah, pelakunya tidak kapok. Dia akan selalu mencoba dan mencoba lagi. Contohnya, pada saat ini dia kalah Rp 50.000 maka dia akan berusaha bagaimana modalnya kembali. Dia juga tak ragu menaikkan taruhan jadi Rp 100.000,” paparnya.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya untuk memberantas segala bentuk penyakit masyarakat, utamanya perjudian. Selain upaya preemtif dan sosialisasi, ia menyebut upaya penindakan sudah dilakukan untuk memberi efek jera. Meski demikian, Kapolda menyampaikan sebenarnya Polda tak bangga bisa memenjarakan para pelaku judi.

Kapolda menyebutkan, selama periode Januari sampai September 2022, Polda Jateng dan jajaran sudah memproses 477 tersangka judi. Beragam kasus yang ditangani termasuk di antaranya judi online, offline, gelanggang (arena) dan sabung ayam. “Seluruh jajaran sudah saya perintahkan untuk tidak memberi ruang pada perjudian, tanpa pandang bulu,” tegasnya.

KH Ahmad Darodji menyebut efek ini dapat memunculkan potensi psikologis yang negatif dan berbahaya buat diri dan orang di sekitarnya. “Bisa memicu permusuhan dan sakit hati sehingga apa pun akan dilakukan. Maka dari itu, di sinilah para ulama sepakat bahwa mental masyarakat harus terus diperbaiki ke arah yang positif dan produktif. Jangan sampai rusak lagi,” pungkasnya. (Cry)

Kredit

Bagikan