Keunikan Tolak Bala Omprong-omprong Raja Mala di Purwosari Girimulyo

user
Agusigit 22 September 2022, 08:10 WIB
untitled

Krjogja.com - MALAM belum beranjak dari pukul 20.00. Namun suasana di desa Purwosari Girimulyo Kulonprogo mulai gelap, listrik memang dipadamkan. Warga yang mengenakan pakaian serba gelap, mulai berdatangan berkumpul sambil membawa oncor. Oncor adalah obor yang dibuat dari bambu, di dalamnya diberi minyak tanah, ujungnya diberi kain kecil sebagai sumbu untuk dinyalakan.

Malam itu memang sedang diadakan upacara adat Omprong-omprong Raja Mala. Acara yang dihadiri oleh sejumlah warga, mulai dari anak-anak sampai orang tua, merupakan upacara tolak bala dan wabah penyakit yang menyerang
hewan peliharaan.

Menurut Kepala Desa setempat, Ny Sri Murtini, upacara semacam itu memang rutin diadakan setiap tahun pada minggu pertama bulan Sapar. Keterlibatan warga terlihat total, apalagi acara adat dihadiri para pejabat dan tokoh masyarakat. Kebetulan dibersamakan dengan Lomba gelar potensi desa wisata yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo.

Upacara adat ini, didahului dengan membersihkan kendang ternak pada siang harinya, dilanjutkan malam harinya dengan omprong-omprong atau pengasapan kendang ternak menggunakan sruwo (gagang ijuk pohon aren) malam harinya.
Dalam prosesi yang dipimpin oleh pemuka adat, memanjatkan doa dalam bahasa Jawa. Uniknya, para peserta yang datang mengamini dengan kata ‘Sorak iyun’. Acara diakhiri acara kenduri dengan iringan sholawat rebana.

Mengapa berpakaian gelap? Menurut Kiswantoro, ketua desa wisata Purwosari memang diharuskan serba gelap. Bahkan dahulu mereka menggunakan blarak (daun kelapa kering) untuk penerangan. Ternak yanag rata-rata kambing,
adakah bagian dari kehidupan desa tersebut. Kambing etawa bisa juga diambil air susunya untuk Kesehatan.

Dalam gelar potensi wisata 2022, menurut kepala dinas pariwisata Kulonprogo, Joko Mursito, tahun ini diikuti oleh 22 desa wisata baik yang lama atau atau baru. “Dari gelar ini, terlihat apakah mereka serius utuk memajukan desa wisata atau hanya setengah-setengah, karena yuri mengikuti menginap selama 24 jam di desa wisata tersebut” katanya. Yuri terdiri dari GKR Bendara (ketua Badan Promopsi Pariwisata DIY), Boby Ardiyanto (Ketua GIPPI DIY), Octo Lampito,Pemred KR yang banyak menulis pariwisata, Dr Ani Wijayanti (akademisi) dan Martha Sasongko (Youtuber).

Dalam gelar potensi tesebut, Purwosari juga menampilkam upacara adat yang lain seperti Guyang Jaran. Acara tersebut menurut pengurus Desa Wisata, Tegar, adalah membasuhka air sungai pada kuda lumping sebagai kiasan untuk membersihkan dosa-dosa. Mengapa kuda lumping? Karena jaran kepang tesebut merupakan bagian dari kesenian Jawa.

Sungai yang dipiih, adalah tempuran atau bertemunya dua sungai yang dijadikan sebagai salah satu sumber kehidupan dan irIgasi bagi warga yang miliki. Warga setempat menyadari, anugerah Tuhan adalah air yang melimpah, sehingga wajib disytukuri. Maka Guyang Jaran adalah ungkapan rasa syukur tesebut. Pelaksaan apacara adat ini, diikuti oleh ratusan warga. Ada 7 padukuhan yang menampilkan kesenian khas mereka.

“Sekaligus sebagai simbol kesatuan atau keguyuban warga serta kehidupan warga” kata kepala desa Ny Sri Murtini. Sebagai penutup adalah upacara adat Baritan Raja Kaya. Upacara tersebut tak kalah menarik, dengan upacara adat yang lain. Upacara tersebut mengarak gunungan ketupat, disertai barisan warga yang melantunkan puji-pujian kepada Tuhan.
Di antara rerimbuan pohon-pohon desa, acara yang mengarak gunungan ini menjadi unik. Warga yang lain, atau wisatawan bisa mengikuti barisan yang selanjutnya diakhir dengan kenduri. Acara yang juga rutin diadakan setiap tahun, merupakan wujud syukur warga masyarakat kepada Tuhan atas rezeki dan hewan ternak yang melimpah. Karena itu, diakhir prosesi dilakukan pengalungan ketupat kepada ternak kambing. Biasanya masyarakat membawa hewan ternak yang terbaik mereka.

Sebagai desa wisata yang dilalui jalur Bedah Menoreh, Purwosari cukup kaya potensi. Selama ini dikenal salah satu destinasi wisata adalah ‘Ayunan Langit’. Ayunan di tepi jurang dengan ketinggian 850 mdpl memadukan keindahan alam dengan tantangan adrenalin. Sejak dibuka 2017 destinasi ini sudah dikunjungi 25.00 wisatawan lokal dan 2000 wisatawan asing.

Ada sejumlah workshop yang disajikan untuk wsatawan, misalnya pembuatan gula jawa, makanan khas Kulonprogo Geblek Renteng, atau teh atau kopi, juga disini bisa belajar tari angguk atau kesenian yang lain seperti Incling atau
Jatilan.

Selain desa tersebut sebagai penghasil salak terbesar di Kulonprogo, Puwosaari juga punya potensi wsiata alam yang menarik. Misalnya wisatawan bisa jalan-jalan sambil mengamati kekayaan jenis urung ada 26, diantaranya adalah elang. Wisatawan bisa menikmai kicauan burung, sambil mangamati jenis anggrek atau tanaman hutan lainnya yang ada sepanjang jalan. Bagi yang ingin bermalam, ada 15 home stay dengan 28 kamar dan 10 toilet standar Asean. (Octo Lampito)

Kredit

Bagikan