Danais Bisa Dipakai untuk Sejahterakan Guru PAUD

user
Tomi Sujatmiko 23 September 2022, 17:24 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari lima kabupaten/kota DIY berkumpul dalam Sosialisasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan yang Berperspekif Gender di DIY.

Kegiatan inidigagas Kementrian PPPA bersama Anggota DPR RI Dapil DIY, Ibnu Mahmud Bilalludin, Jumat (23/9/2022). Beberapa hal dibahas salah satunya terkait kesejahteraan para guru PAUD yang belum memadai saat ini. Ibnu Mahmud Bilalludin, Anggota Komisi VIII DPR RI,mengamini sistem pendidikan nasional belum bisa mengakomodir pendidikan anak usia dini. Padahal, PAUD dengan para pengajarnya menurut Ibnu sudah ada sejak dahulu dengan inisiasi komunitas bermodal dasar ikhlas.

“Apa yang dilakukan ibu dan bapak semua sangat luar biasa, dengan disiplin dan waktu yang disediakan, luar biasa. Bagaimana agar masuk dalam sistem pendidikan nasional harus diperjuangkan. Semoga perjuangan panjang ini bisa membawa hasil, karena niat baik demi bangsa dan negara akan disambut baik pihak lain,” ungkap Ibnu.

Sementara, Erlina Hidayati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY, mengungkap sampai saat ini memang kesejahteraan untuk para pengajar PAUD belum memadai. Namun begitu, saat ini dengan adanya Dana Keistimewaan (Danais) DIY, hal tersebut sangat mungkin menjadi prioritas usulan dan masuk dalam bagian penyaluran dana.

“Ibu Paud di Himpaudi ini relawan yang luar biasa, bagaimana sejak awal mereka menyiapkan anak istimewa. Kami koordinasi dengan kabupaten/kota untuk pengembangan Paud, terlebih di DIY ada Danais. Namun karena kewenangan di kabupaten/kota padahal Danais di provinsi maka harus ada kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, naik ke Dinas Pendidikan DIY dan kerjasama dengan Dinas Kebudayaan maka untuk Paud ini sangat mungkin,” tegas Erlina.

Para pengajar Paud menurut Erlina sangat lekat dengan penanaman budi pekerti dan hal itu adalah bagian dari budaya masyarakat yang utama. “Penanaman nilai budi pekerti dan budaya itu berawal dari sini (Paud). Bagaimana ini bisa masuk dalam kerangka keistimewaan DIY, ini yang harus kita dorong dan optimalkan,” sambungnya.

Dalam sosialisasi tersebut, ditekankan pula pada para pengajar Paud agar lebih memberi perhatian pada kekerasan baik fisik maupun psikis. Hal tersebut menjadi yang sangat penting karena korban kekerasan akan memiliki trauma panjang yang harus diurai.

“Kalau sampai sudah terjadi kekerasan, jangan menahan diri untuk mengadukan. Jadi korban kekerasan itu trauma panjang, baik untuk anak dan ibu. Bisa berkembang juga si anak jadi pelaku kekerasan di kemudian hari. Maka itu jangan sampai terjadi, kita cegah bersama,” pungkas Erlina. (Fxh)

Credits

Bagikan