DLH Kulonprogo Gropyok dan Grebeg Sampah

user
Danar W 26 September 2022, 08:10 WIB
untitled

Krjogja.com - KULONPROGO - Tiga isu prioritas lingkungan hidup Kabupaten Kulonprogo meliputi penurunan kuantitas dan kualitas air, alih fungsi lahan dan pengelolaan sampah dan air limbah menjadi perhatian utama. Karena pembangunan daerah harus memegang prinsip metodologi pembangunan berkelanjutan agar dalam mengelola potensi yang ada bisa meningkatkan perekonomian daerah tapi juga ramah terhadap perlindungan lingkungan hidup.

"Mengacu Perbup nomor 68/2018 tentang Kebijakan dan Strategi Daerah dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstrada) 2025 target tertangani 70% dan target terkurangi 30%. Sampai 2021 target pengurangan tercapai 26,46% dan penanganan sampah 19,5%," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup/ DLH setempat Sumarsana MSi di sela Gropyok dan Grebeg Sampah di Panggung Budaya Kalurahan Brosot, Galur, Minggu (25/9/2022).

Kegiatan dimeriahkan kirab gunungan/ kreasi sampah dari semua perwakilan pedukuhan di Kalurahan Brosot serta penampilan kesenian tradisional reog Brayat Klampok menarik perhatian masyarakat. Ribuan warga menyaksikan prosesi acara baik yang di panggung budaya maupun kirab gunungan sampah yang melintas di pinggir jalan raya.

"Animo masyarakat mengikuti dan menyaksikan kegiatan yang kami laksanakan melalui Dana Keistimewaan kali pertama ini cukup tinggi. Gropyok dan grebeg sampah bagian rangkaian dari sosialisasi pengelolaan sampah yang kami laksanakan di 12 Kalurahan Budaya untuk melakukan 3R yaitu Reuce, Reduce dan Recycle," jelasnya.

Tujuan gropyok dan grebeg sampah, memberikan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sampah serta melestarikan sekaligus mengangkat tradisi, budaya dan kebijakan lokal mendukung perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Kulonprogo.

"Harapannya dari kalurahan, sampah dikelola dan diselesaikan sehingga tidak sampai Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Artinya masyarakat bisa memilah dan memilih sampah dari tingkat rumah tangga. Memahami sampah harus dikelola, agar tidak jadi masalah di masa depan. Mulai sekarang, mari pelihara alam dengan mengurangi sampahnya," imbau Sumarsana.

Dari sejumlah Kalurahan Budaya di Kulonprogo, belum semua memiliki bank sampah sehingga diharapkan segera membentuk bank sampah untuk menampung sampah hasil pilahan warga. "Acara grebek sampah menggunakan sampah yang bisa didaur ulang. Harapan kami, ini menjadi contoh agar masyarakat sadar tidak membuang sampah sembarangan tapi memilahnya," ujar Sumarsana.

Terhadap sampah organik bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk. Kalau terpaksa baru sampai ke TPA. "Buanglah sampah pada tempatnya, agar sungai, jalan dan lainnya bebas sampah," tuturnya menambahkan peserta gropyok dan grebek sampah sebagian besar generasi muda, mereka mendukung penyelesaian permasalahan sampah.

Staf Ahli Bupati, Drs Eka Pranyata menuturkan Kulonprogo berkomitmen dalam pengelolaan sampah dan bertekad mewujudkan kabupaten ini bebas sampah pada 2025. Sehingga diperlukan kerjasama dan peran semua pihak. Pengelolaan sampah wajib mengimplementasikan azas manfaat bagi masyarakat. "Cara mengelola sampah wajib diubah. Sampah harus dipandang sebagai residu yang masih bisa diambil manfaatnya guna meningkatkan kehidupan masyarakat," tutur Eka.

Kabid Urusan Kebudayaan, Paniradya Kaistimewan DIY, Nugroho Wahyu Winarno berharap, masalah sampah harus menjadi perhatian bersama. Sampah harus disikapi sejak dini agar tidak jadi permasalahan saat pembangunan sudah semakin pesat. (Rul)

Kredit

Bagikan